1.600 Guru Al Quran Terima Santunan Zakat YDSF
Artikel oleh: Oki Aryono pada September 3, 2010 pukul 10:50 WIB. Belum ada komentar
“Program YDSF ini jelas mendukung pemerintah. Sampai hari ini memang belum ada anggaran dari pemprov untuk guru ngaji dan guru PAUD. Istilahnya gampangnya belum laci anggarannya itu,” tambah Gus Ipul.
Masih minimnya kesejahteraan guru swasta, terutama guru Al Quran membuat Yayasan Dana Sosial Al Falah (YDSF) tergerak untuk membantu mereka. Sebagai tanda cinta terhadap pengabdian mereka sekaligus bertepatan dengan momen Ramadhan 1431 H kali ini, melalui program Cinta Guru Al Quran, YDSF memberikan bantuan zakat kepada 1.600 guru Al Quran.
Bantuan itu diberikan langsung melalui Wakil Gubernur Jatim Syaifullah Yusuf kepada sekitar 200 perwakilan mereka, Kamis (2/9) di halaman Graha Dakwah YDSF, Jl. Kertajaya 8 C/17 Surabaya. Total santunan yang diberikan mencapai Rp 500 juta dengan masing-masing guru menerima Rp 300 ribu.
Menurut Ir. Arie Kismanto, M.Sc, Direktur Eksekutif YDSF, santunan itu akan diterima oleh guru Taman Kanak-kanak Al Quran (TKA) dan Taman Pendidikan Al Quran (TPA/TPQ) yang berasal dari hampir seluruh kota/kabupaten di Jatim. “Umumnya mereka itu guru Al Quran di desa-desa pelosok yang setiap bulan digaji antara Rp 20 ribu hingga 45 ribu,” katanya.
Arie menjelaskan program itu merupakan bantuan yang kesekian kalinya yang dilakukan YDSF dalam menghimpun donasi dari para donaturnya untuk kemudian disalurkan langsung kepada guru-guru tersebut.
“Alhamdulillah, kepedulian donatur YDSF sangat luar biasa sekali. Tahun lalu, kita juga menyalurkan bantuan serupa yang jumlahnya hampir sama. Kita bersyukur, tahun ini bisa memberi santunan serupa,” tukas Arie.
Wakil Gubernur Jawa Timur, Syaifullah Yusuf menyatakan bahwa apa yang dilakukan YDSF ini merupakan gerakan mulia. “Nabi Muhammad pernah bersabda orang yang paling mulia adalah orang belajar dan mengajarkan Alquran. Apalagi ini pas bulan mulia juga,” ucap Gus Ipul, sapaan akrabnya. “Program YDSF ini jelas mendukung pemerintah. Sampai hari ini memang belum ada anggaran dari pemprov untuk guru ngaji dan guru PAUD. Istilah gampangnya belum ada laci anggarannya,” tambah Gus Ipul.
Abdul Qodir, salah seorang penerima santunan dari Desa Sumber Petung, Kecamatan Ranuyoso, Lumajang mengatakan gembira memperoleh santunan itu. “Saya bersyukur bisa mendapatkan bantuan ini. Apalagi saat mengajar saya jarang menerima gaji, karena saya tidak tega menarik iuran santri-santri saya,” kata pria 41 tahun yang biasa dipanggil Cak Leng itu.
Cak Leng adalah sosok guru ngaji dari desa pelosok yang mempunyai keterbatasan fisik, karena tidak mempunyai dua tangan. “Semoga bantuan ini bisa memberi manfaat lebih, apalagi menjelang Hari Raya Idul Fitri,” tambah Arif Prasojo, Humas YDSF.(sumber: Khoirul Anam, kru Humas YDSF Surabaya)

