Bersepeda Bareng, Napak Tilas ala YDSF

sepeda tapak tilas

Artikel oleh: pada March 20, 2012 pukul 13:31 WIB. Belum ada komentar

Untuk menapaktilasi 25 tahun kiprah YDSF, panitia Milad YDSF 2012 menyelenggarakan sepeda santai dengan tema Historical Gowes, Ahad (18/3). Sejumlah perwakilan donatur dan masyarakat sekitar Surabaya dan Sidoarjo yang jumlahnya seratusan orang turut ambil bagian dalam ngontel bareng mengenang awal-awal berdirinya lembaga amil zakat nasional itu. Selain bersepeda menyusuri beberapa tempat yang pernah berdiri kantor YDSF, peserta juga diajak untuk lebih peduli dengan memberikan bantuan kepada dhuafa dan beberapa orang yang berjasa kepada YDSF.
 
Menurut M. Guruh Hanafia, koordinator Historical Gowes, acara ini sengaja dilaksanakan untuk mengingatkan kepada seluruh elemen di YDSF agar mampu mengambil inspirasi dari para perintis. “Di tahun awal berdiri, para jungut harus bersepeda keliling Surabaya untuk mengambil donasi. Mereka benar-benar bersemangat mendatangi donatur meski hanya dengan sarana sederhana dan menempuh jarak yang cukup jauh,” jelasnya.
 
Start dari Masjid Al Falah, Jl. Raya Darmo, tempat pertama kalinya YDSF dicetuskan dan berkantor, peserta diajak bergeser ke utara masjid tepatnya ke Lembaga Pendidikan Al Falah (LPF) atau yang biasa dikenal dengan SD Al Falah Mayangkara. Di sini, YDSF pernah berkantor antara 1987-1992.
 
Kemudian peserta menuju ke Jalan Darmo Kali untuk singgah di rumah nomor 23. Dari Darmo Kali, rombongan melintasi Jalan Jagir Wonokromo-Nginden Raya menuju ke Jalan Manyar Kertoarjo Kav IV/23. Di ruko tiga lantai yang kini ditempati rumah makan Ikan Bakar Mataram ini, YDSF pernah berkantor antara 1996-2004.
 
Setelah beberapa saat mendengarkan paparan dan cerita masa-masa berkantor di Jalan Manyar Kertoarjo, selanjutnya peserta menuju finish di Graha Zakat YDSF Jalan Kertajaya 8 C/17. Di halaman Graha Zakat ini, sambil menikmati makanan ringan, peserta saling berkenalan dan mengikuti pembagian doorprize.
 
Agus Sumartono, yang kini menjadi Manajer Fundraising YDSF, adalah salah satu orang yang merasakan saat awal YDSF dirintis. “Dulu, para pengurus punya mimpi, setiap muslim di Surabaya berinfaq seribu rupiah tiap bulan. Saat itu warga muslim Surabaya sekitar 400 ribu orang. Jadi mimpinya terhimpun Rp 400 juta per bulan. Alhamdulillah, sekarang sudah melampaui. Kini, 25 tahun kedua manajemen YDSF harus mencanangkan mimpi berikutnya,” tutur pria yang bekerja di YDSF sejak 1987 ini.
 
Makanya tak heran, ketika acara historical gowes itu diadakan, banyak karyawan YDSF yang telah ikut membesarkan selama ini merasa seperti bernostalgia mengenang kala YDSF mulai ada. “Bagus sekali ya acara seperti ini. Kita jadi tahu seperti apa perjuangan YDSF pada awal berdirinya,” tukas salah seorang peserta dari Wiyung, Surabaya.{}

Bu Sri, penjual nasi di Manyar Kertoarjo dekat kantor YDSF lama, menerima tali asih

FacebookTwitterGoogle+Google BookmarksYahoo MailPrintShare