Kiprah Muhammad Ajib, Koordinator Guru Al Quran Surabaya di Ummi Foundation

Artikel oleh: pada January 19, 2011 pukul 06:08 WIB. Belum ada komentar

Di sela-sela kesibukannya mengajar di sekolah dasar, ia tetap menyisihkan waktunya untuk mengajar TPQ. Baginya, menjadi guru ngaji sudah menjadi panggilan hati. Ia pun merasa nyaman mengajarkan Al Quran.

Riuh renyah suara bacaan Al Quran terdengar di sudut-sudut ruangan Masjid Al Ikhlas, Ketintang, Surabaya. Sore itu memang jadwal mengaji tengah berlangsung. Anak-anak yang terbagi dalam beberapa kelompok itu duduk melingkar sedang menyimak pelajaran dari ustadz dan ustadzah. Karena jumlahnya lumayan banyak, masjid itu tampak ramai. Di salah satu sudut ruangan masjid itu, seorang pria sedang serius mengajar bacaan gharib (bacaan khusus/asing dalam Al Quran) pada sekelompok anak. Dengan telaten dan teliti, ia betulkan bacaan-bacaan yang salah.

Begitulah rutinitas yang dilakoni Muhammad Ajib setiap hari. Mengajar Al Quran adalah profesi tetapnya. Setiap pagi, pria asli Jombang ini menjadi guru di SD Al Hikmah Gayung Kebon sari, Surabaya. Sepulang mengajar di sana, Ajib, panggilan akrabnya, berlanjut ke SMP Muhammadiyah 4 Surabaya Jl. Gadung (utara RSAL) untuk mengoordinir guru quran. Kemudian seusai Ashar ia pun mengajar ngaji di Masjid Al Ikhlas. Rutinitas ini dijalaninya dengan sepenuh hati. “Mungkin ini adalah amanah yang harus saya terima dan akan saya lakukan semampu saya,” ujarnya.

Sebenarnya, menjadi seorang pengajar Al Quran tidak pernah terpikir dalam benaknya. Tapi, sejak menjadi mahasiswa di Universitas Negeri Surabaya (UNESA), pria kelahiran 11 April 1979 ini aktif di organisasi mahasiswa Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI). Dari sinilah motivasinya untuk mengajar ngaji mulai muncul. Sejak menjadi aktivis organisasi itu, Ajib rajin tergabung dalam Ta’limu Qiro’atil Quran (TQQ). Sejak itulah materi-materi seputar membaca Al Quran yang didapat dari TQQ mulai dipraktikkan di masyarakat.

Karena tinggal di dekat Yayasan Al Ikhlas yang tak jauh dari kampusnya, sarjana pendidikan IPA ini membantu kegiatan di masjid milik yayasan tersebut. “Kadang saya membantu kegiatan takmir, membina anak-anak yatim di panti milik yayasan, dan sekaligus mengajar di Taman Pendidikan Al Quran (TPQ) di Masjid Al Ikhlas ini ” kata pria berkacamata ini seraya tersenyum.

Beruntung Bisa Ikut UMMI

Sudah cukup lama suami Ismiyati (31) ini membantu aktivitas masjid termasuk mengajar TPQ. Ia pun semakin termotivasi untuk konsen di dunia pendidikan Al Quran. Sekitar 7 tahun ia berkecimpung membantu mengajar. Selama itu pula bapak dari Hilya Millani Azis (3) ini bergonta-ganti menggunakan metode baca Al Quran. Sampai pada akhirnya, tahun 2007 ia mengikuti sertifikasi guru Al Quran metode UMMI yang bekerja sama dengan Yayasan Dana Sosial Al Falah (YDSF).

Menurut dia, sejak mengikuti pelatihan guru Quran itu dirinya mendapat banyak manfaat terutama tentang teknik membaca Al Quran yang mudah dan benar. “Ummi merupakan metode baca Al Quran yang mudah dan nyaman untuk diterapkan. Selain itu guru-guru Al Quran hasil binaan Ummi boleh dibilang cukup berkualitas. Karena metode Ummi ini memang membidik kualitas guru,” akunya.

Setelah lulus sertifikasi guru Quran, ilmu yang dia peroleh itu diterapkan di TPQ tempatnya mengajar. Katanya, untuk lulus metode Ummi ini, santri harus melalui 8 tahapan, di antaranya kefasihan (fashoha), tartil, ghorib, tajwid (teori dan mampu menjelaskan), hafalan Juz Amma (mulai surat An Naas ke depan hingga Al A’la), hafalan doa sehari-hari, mampu berwudlu, dan shalat (bacaan serta gerakannya).

Kini, ia tak sekadar menjadi guru taman pendidikan Al Quran. Setelah mendapat sertifikat guru Quran, pria berusia 31 tahun ini dipercaya menjadi Koordinator Ummi Cabang Surabaya dan Trainer Ummi. “Alhamdulillah, keinginan saya untuk menjadi guru ngaji telah terpenuhi. Ternyata saya juga diberi amanah untuk menjadi koordinator untuk wilayah Surabaya,” ujarnya.

Metode Ummi hingga saat ini sudah dipakai di 11 provinsi. Ada 46 lembaga di Surabaya yang menerapkan metode Ummi ini. Sepanjang 2010, YDSF telah menggelontorkan dana sebesar Rp 161 juta untuk biaya pembinaan & pelatihan guru Al Quran ini melalui Ummi Foundation, selaku lembaga pelatihan dan pengembang metode Ummi.(naskah dan foto: Dian Laksana).{}