Ragu Berprofesi Tukang Gambar

Artikel oleh: pada March 17, 2011 pukul 11:33 WIB. Belum ada komentar

Assalamu alaikum wr wb

Saya seorang donatur YDSF. Pekerjaan saya sering berhubungan dengan menggambar atau melukis. Namun saya agak bimbang tentang hukum menggambar/melukis dalam Islam. Pertanyaan saya:

1. Apa hukumnya melukis/menggambar dalam Islam?

2. Saya pernah mendengar bahwa salah satu golongan penghuni neraka adalah orang yang suka menggambar. Saya jadi takut. Mohon Ustadz jelaskan.

3. Kalau foto, apa hukumnya? Adakah foto yang dilarang dan yang dibolehkan? Mengingat banyaknya manfaat foto di zaman sekarang.

Atas jawabannya, saya ucapkan terima kasih.

Wassalamu alaikum wr wb

Donatur No. 044709

JAWAB

1.2. Para Ulama Fiqih kelihatannya berikhtilaf (berbeda pendapat) perihal hukum gambar ini terkait dengan hadis Rasulullah saw. yang berbunyi bahwa seberat-berat siksaan kelak di hari kiamat ialah terhadap tukang-tukang gambar; orang-orang yang membuat gambar kelak di hari kiamat akan disiksa, seraya dikatakan kepada mereka: “Hidupkanlah apa yang kalian buat itu.” Juga hadis yang berbunyi seberat-berat siksaan kelak di hari kiamat ialah terhadap orang-orang yang menyamai ciptaan Allah.” Hadis-hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

Pendapat-pendapat para ulama itu dapat dapat dikelompokkan sebagai berikut:

a. Semua bentuk gambar/lukisan/pahatan adalah haram.

b. Gambar/lukisan/pahatan yang haram ialah makhluk yang bernyawa.

c. Gambar/lukisan/pahatan yang haram ialah makhluk bernyawa dengan utuh.

d. Gambar/lukisan/pahatan yang haram ialah yang mempunyai bayangan (patung).

e. Gambar/lukisan/pahatan yang haram ialah yang ada unsur penghargaan. Sementara yang dihina, seperti yang dipasang di lantai tidak haram.

f. Gambar/lukisan/pahatan yang haram ialah yang membawa fitnah, misalnya gambar yang dikultuskan/dipuja (patung/gambar Budha dan Yesus), gambar/lukisan/patung porno.

Dari kalangan ulama mutaakhirin (ulama abad 20-an M) seperti A. Hasan (guru Pesantren Persis Bangil, Pasuruan), Dr. Yusuf Qardhawi (dari Qatar) dan Dr. Ahmad Syirbasi (ulama al Azhar Mesir) lebih memilih pendapat terakhir.

Alasan ketiga ulama ini berdasar pada dua perbuatan Nabi saw. yang tercatat dalam Kitab Hadis Bukhari. Di sana di sebutkan bahwa Nabi saw. ternyata membiarkan Aisyah ra bermain boneka kuda dan beliau juga membenarkan Aisyah menjadikan gorden bergambar burung untuk sarung bantal yang diduduki oleh Nabi saw sendiri. (HR Bukhari). Gambar di sini termasuk fotografi. Lebih lanjut lihat Soal Jawab oleh A. Hassan, jilid II, hal. 347 tahun 1977; Halal dan Haram dalam Islam oleh Dr. Yusuf Qardhawi (terjemahan) hal. 140-157, Bina Ilmu; dan Yas’alunaka Fiddin wal Hayah oleh Dr. Ahmad Syirbashi, jilid I, hal. 630 dan Jilid II, hal. 547.

3. Tentang fotografi, para ulama salaf terdahulu belum membicarakan karena dulu belum dikenal. Bahasan tentang fotografi ini baru dilakukan oleh para ulama mutaakhirin. Kesimpulannya sama. Ada yang ekstrim yaitu haram. Ada yang moderat (ambil jalan tengah) dengan melihat objek, tujuan, dan dampaknya. Selama foto itu tidak membawa fitnah agama -tidak merusak aqidah dan tidak merusak akhlak Islam- maka hukumnya boleh.

Demikian jawaban kami. Wallahu a’lam bi shawab.

(Diasuh oleh KH. Muammal Hamidy, anggota Dewan Syariah YDSF)

KH. Muamal Hamidy

FacebookTwitterGoogle+Google BookmarksYahoo MailPrintShare