Peran Remaja di Panggung Islam

Artikel oleh: pada December 13, 2010 pukul 09:35 WIB. Belum ada komentar

Oleh Zainal Arifin Emka*

“Mam, kenapa ya kisah perjuangan Islam kok cuma tentang orang tua, tidak ada yang berkisah tentang remaja?”

Pertanyaan Putri itu agak mengagetkan ibu yang sedang asyik membaca. “Ada apa kok tiba-tiba menanyakan itu?” sahut Ibu lembut.

“Putri sedang mencari Mam. Di buku inipun nggak ada. Soalnya temanku juga bilang nggak pernah menemukan Mam!”

Ibu berdiri dan berjalan ke rak buku, lalu kembali menemui putrinya. “Fatimah, putri Rasulullah saw. mendampingi perjuangan ayahnya sejak ia masih remaja.  Suatu saat Fatimah ra mengikuti ayahnya menuju Kakbah. Di sana banyak musyrik Quraisy. Saat Nabi bersujud, Uqbah mendekat dan mencampakkan kotoran dan usus unta ke punggung Nabi di bawah pandangan Fatimah. Rasul tidak mengangkat kepalanya sedikit pun. Melihat itu Fatimah segera berlari mendekat dan mengambil kotoran dari punggung ayahnya. Ia lalu memanggil orang yang melakukan perbuatan keji itu. Baru setelah mendengar suara putrinya itulah Nabi mengangkat kepalanya.”

“Katanya di akhir hayat Rasulullah, Fatimah ikut mendampingi,” kata Putri.

“Ya benar, Mama punya kisah detik-detik wafatnya beliau. Mama print dari blog ikhwanbook.com. Nih, baca sendiri. Itu kisah cinta agung seorang pemimpin kepada umatnya.”

Putri mulai membaca. “Pagi itu Rasulullah dengan suara terbata-bata berkhutbah. ‘Wahai umatku. Kita semua dalam kekuasaan Allah dan Cinta kasih-Nya. Maka taat dan bertakwalah kepadaNya. Kuwariskan dua perkara pada kalian, Al Quran dan Sunnahku. Siapa yang mencintai sunnahku, berarti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintai aku akan masuk surga bersama-sama aku.’”

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang dan penuh minat menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca. Umar menahan nafas dan tangisnya. Usman menghela nafas panjang. Ali menundukkan kepala.

Isyarat telah datang. Saatnya sudah tiba. “Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” keluh hati sahabat. Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya. Tanda-tanda itu semakin kuat. Ali dengan cekatan memeluk Rasulullah yang lemah dan goyah ketika turun dari mimbar.

Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Di dalamnya, Rasul terbaring lemah dengan kening berkeringat membasahi pelepah kurma alas tidurnya.Tiba-tiba dari luar pintu terdengar ucapan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya.

Fatimah tidak mengizinkannya masuk. “Maafkan, ayahku sedang demam,” katanya.

Ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya: “Siapakah itu wahai anakku?”

“Tak tahulah ayahku, sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut. Rasulullah menatap putrinya dengan pandangan menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah putrinya hendak dikenangnya.

“Ketahuilah. Dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara. Dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut!” kata Rasulullah. Fatimah pun menahan ledakan tangisnya.

Ketika Malaikat maut datang mendekat, Rasul menanyakan kenapa Jibril tidak menyertainya. Kemudian dipanggilah Jibril yang sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah ini.

“Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?!” tanya Rasulullah dengan suara amat lemah.

“Pintu-pintu langit telah terbuka. Para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril. Ternyata itu tidak membuat Rasul lega. Matanya masih penuh gambaran kecemasan.

“Engkau tidak senang mendengar kabar ini?” tanya Jibril.

“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”

“Jangan khawatir Ya Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat. Saatnya Izrail melakukan tugasnya. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini,” Rasulullah mengaduh lirih. Fatimah terpejam. Ali yang berada di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. “Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” tanya Rasulullah pada malaikat pengantar wahyu itu.

“Siapakah yang sanggup melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril. Kemudian terdengar Rasul memekik karena sakit yang tidak tertahankan. “Ya Allah!! Dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.”

“Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya: Uushikum bis Shalati, wa maa malakat aymanukum. Peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antara kamu.”

“Di luar pintu, tangis pun mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii….. Ummatii……. Ummatii….”

“Berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi.”

“Betapa cintanya Rasulullah kepada kita. Betapa sayangnya beliau kepada pengikutnya yang belum pernah dilihatnya sekalipun,” tutur Ibu.{}

*) Ketua Stikosa-AWS; Staf Ahli majalah Al Falah

za_emka@yahoo.co.id

Zainal Arifin Emka