<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>YDSF Surabaya</title>
	<atom:link href="http://www.ydsf.org/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ydsf.org/v2b</link>
	<description>Yayasan Dana Sosial Al-Falah Surabaya</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Sep 2010 18:19:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Kebaikan yang Melampaui Umur Kita</title>
		<link>http://www.ydsf.org/v2b/kebaikan-yang-melampaui-umur-kita</link>
		<comments>http://www.ydsf.org/v2b/kebaikan-yang-melampaui-umur-kita#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Sep 2010 05:59:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adhan Sanusi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Untaian Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ydsf.org/?p=413</guid>
		<description><![CDATA[<p>Bukanlah suatu hal yang mudah untuk menjadikan hitungan waktu dalam setiap  detik, jam, hari, minggu,  bulan ,  tahun, bahkan seumur hidup untuk melalui potongan-potongan waktu tersebut berada di jalan kebaikan.</p>
<p>Bahkan bisa dikatakan mustahil ada orang yang mampu menjadikan seluruh&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bukanlah suatu hal yang mudah untuk menjadikan hitungan waktu dalam setiap  detik, jam, hari, minggu,  bulan ,  tahun, bahkan seumur hidup untuk melalui potongan-potongan waktu tersebut berada di jalan kebaikan.</p>
<p>Bahkan bisa dikatakan mustahil ada orang yang mampu menjadikan seluruh waktu hidupnya dalam kebaikan terus tanpa terjatuh dalam kesalahan. Karena ini jelas bertentangan dengan tabiat asli yang merupakan “<em>mahallul khatha’ wan nisyan” </em>( manusia tempat salah dan lupa). Juga bertentangan dengan ketetapan Allah bahwa manusia diciptakan dalam keadaan “<em>Khottho</em>” ( sering terjatuh kedalam kesalahan). Dan juga tidak sesuai dengan penciptaan dasar manusia yang dikaruniai dua ilham yaitu<em> fujur</em> (keburukan) dan<em> taqwa</em> (kebaikan).<span id="more-413"></span></p>
<p>Walaupun tidak ada manusia yang bisa menjadikan seluruh hidupnya dalam kebaikan terus menerus tanpa terjatuh dalam keburukan. Namun Allah Yang Maha Baik memberikan karunia kepada hamba-Nya untuk berlomba-lomba  meraih sebuah kebaikan yang jika mendapatkannya akan menjadi sangat luar biasa. Karena  kebaikan tersebut  mampu melampaui kebaikan seluruh umur rata-rata manusia. Yaitu kebaikan malam Lailatul Qadar. Lho kok bisa?</p>
<p>Umur rata-rata umat nabi Muhammad saw adalah enampuluh sampai tujuh puluh tahun.</p>
<p>“ <em>Umur Ummatku antara enampuluh sampai tujuh puluh tahun, dan sangat sedikit yang mampu melampauinya</em>”. ( HR Ahmad)</p>
<p>Kenapa Lailatul Qadar bisa melampaui kebaikan seluruh umur rata-rata manusia?  mari kita berandai-andai. Seandainya ada manusia yang seluruh hidupnya penuh dengan kebaikan, tidak pernah jatuh dalam kesalahan  atau keburukan –yang ini  mustahil- dan dia tidak pernah mendapat  malam Lailatul Qadar kecuali satu kali dalam hidupnya.</p>
<p>Maka apa yang dia dapatkan dari kebaikan malam Lailatul Qadar itu masih jauh lebih baik dari kebaikan seluruh hidupnya. Karena kebaikan malam itu dikatakan Allah swt lebih baik dari seribu bulan atau delapan puluh tiga tahun tiga bulan tiga hari tiga jam tiga menit dan seterusnya atau  = 83,3333333 th. Sedangkan umur rata –rata manusia tidak sampai 80 tahun tetapi antara 60 sampai 70 tahun.</p>
<p>Allah mengatakan lebih baik dari 1000 bulan bukan sama dengan 1000 bulan. Kita tidak tahu berapa lebihnya dari 1000 bulan terebut. Bisa jadi lebihnya kurang atau sama atau  lebih dari 1000 bulan lagi sampai tidak berhingga, hanya Allah yang tahu kelebihan baiknya dari 1000 bulan tersebut.</p>
<p>Malam Lailatul Qadar ternyata tidak hanya sekali seumur hidup. Kebaikan yang melampaui kebikan umur ini  bahkan datang setiap tahun menyapa hamba-Nya yang betul-betul mengoptimalkannya.</p>
<p>Setiap hati kita sudah tertatih-tatih utuk menjadi baik berperang melawan hawa nafsu dan godaan syetan. Maka sungguh merugi ketika ada kesempatan untuk meraih kebaikan yang melebihi umur kita lalu di abaikan.</p>
<p>Nabi kita terkait dengan keutamaan malam Lailatul Qadar sangat hebat dalam usaha mendapatkannya dimana ketika memasuki 10 malam terakhir Ramadlan.</p>
<p>“Adalah Nabi saw ketika  memasuki 10 akhir Ramadlan, mengencangkan ikat pingganya  dan membangunkan keluarganya”.  ( HR  Ahmad )</p>
<p>Adhan Sanusi &#8211; Bidang Dakwah YDSF</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ydsf.org/v2b/kebaikan-yang-melampaui-umur-kita/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>1.600 Guru Al Quran Terima Santunan Zakat YDSF</title>
		<link>http://www.ydsf.org/v2b/1-600-guru-al-quran-terima-santunan-zakat-ydsf</link>
		<comments>http://www.ydsf.org/v2b/1-600-guru-al-quran-terima-santunan-zakat-ydsf#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Sep 2010 03:50:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>itworks</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kabar YDSF]]></category>
		<category><![CDATA[guru ngaji zakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ydsf.org/?p=401</guid>
		<description><![CDATA[<p>“Program YDSF ini jelas mendukung pemerintah. Sampai hari ini memang  belum ada anggaran dari pemprov untuk guru ngaji dan guru PAUD.  Istilahnya gampangnya belum laci anggarannya itu,” tambah Gus Ipul.</p>
<p>Masih minimnya kesejahteraan guru swasta, terutama guru Al Quran membuat&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_418" class="wp-caption alignleft" style="width: 522px"><a href="http://www.ydsf.org/va/wp-content/uploads/2010/09/cak-leng.jpg"><img class="size-full wp-image-418 " src="http://www.ydsf.org/va/wp-content/uploads/2010/09/cak-leng.jpg" alt="" width="512" height="384" /></a><p class="wp-caption-text">Abdul Qodir alias Cak Leng, guru ngaji tanpa tangan asal Lumajang, Jatim</p></div>
<div id="attachment_407" class="wp-caption alignleft" style="width: 603px"><a href="http://www.ydsf.org/va/wp-content/uploads/2010/09/guru-tpa-2.jpg"><img class="size-full wp-image-407   " src="http://www.ydsf.org/va/wp-content/uploads/2010/09/guru-tpa-2.jpg" alt="" width="593" height="395" /></a><p class="wp-caption-text">Serah terima santunan zakat simbolis disaksikan Gus Ipul, Wagub Jatim </p></div>
<p>“Program YDSF ini jelas mendukung pemerintah. Sampai hari ini memang  belum ada anggaran dari pemprov untuk guru ngaji dan guru PAUD.  Istilahnya gampangnya belum laci anggarannya itu,” tambah Gus Ipul.</p>
<p>Masih minimnya kesejahteraan guru swasta, terutama guru Al Quran membuat Yayasan Dana Sosial Al Falah (YDSF) tergerak untuk membantu mereka. Sebagai tanda cinta terhadap pengabdian mereka sekaligus bertepatan dengan momen Ramadhan 1431 H kali ini, melalui program Cinta Guru Al Quran, YDSF memberikan bantuan zakat kepada 1.600 guru Al Quran.</p>
<p>Bantuan itu diberikan langsung melalui Wakil Gubernur Jatim Syaifullah Yusuf kepada sekitar 200 perwakilan mereka, Kamis (2/9) di halaman Graha Dakwah YDSF, Jl. Kertajaya 8 C/17 Surabaya. Total santunan yang diberikan mencapai Rp 500 juta dengan masing-masing guru menerima Rp 300 ribu.</p>
<p>Menurut Ir. Arie Kismanto, M.Sc, Direktur Eksekutif YDSF, santunan itu akan diterima oleh guru Taman Kanak-kanak Al Quran (TKA) dan Taman Pendidikan Al Quran (TPA/TPQ) yang berasal dari hampir seluruh kota/kabupaten di Jatim. “Umumnya mereka itu guru Al Quran di desa-desa pelosok yang setiap bulan digaji antara Rp 20 ribu hingga 45 ribu,” katanya.</p>
<p>Arie menjelaskan program itu merupakan bantuan yang kesekian kalinya yang dilakukan YDSF dalam menghimpun donasi dari para donaturnya untuk kemudian disalurkan langsung kepada guru-guru tersebut.</p>
<p>“<em>Alhamdulillah</em>, kepedulian donatur YDSF sangat luar biasa sekali. Tahun lalu, kita juga menyalurkan bantuan serupa yang jumlahnya hampir sama. Kita bersyukur, tahun ini bisa memberi santunan serupa,” tukas Arie.</p>
<p>Wakil Gubernur Jawa Timur, Syaifullah Yusuf menyatakan bahwa apa yang dilakukan YDSF ini merupakan gerakan mulia. “Nabi Muhammad pernah bersabda orang yang paling mulia adalah orang belajar dan mengajarkan Alquran. Apalagi ini pas bulan mulia juga,” ucap Gus Ipul, sapaan akrabnya. “Program YDSF ini jelas mendukung pemerintah. Sampai hari ini memang belum ada anggaran dari pemprov untuk guru ngaji dan guru PAUD. Istilah gampangnya belum ada laci anggarannya,” tambah Gus Ipul.</p>
<p>Abdul Qodir, salah seorang penerima santunan dari Desa Sumber Petung, Kecamatan Ranuyoso, Lumajang mengatakan gembira memperoleh santunan itu. “Saya bersyukur bisa mendapatkan bantuan ini. Apalagi saat mengajar saya jarang menerima gaji, karena saya tidak tega menarik iuran santri-santri saya,” kata pria 41 tahun yang biasa dipanggil Cak Leng itu.</p>
<p>Cak Leng adalah sosok guru ngaji dari desa pelosok yang mempunyai keterbatasan fisik, karena tidak mempunyai dua tangan. “Semoga bantuan ini bisa memberi manfaat lebih, apalagi menjelang Hari Raya Idul Fitri,” tambah Arif Prasojo, Humas YDSF.(sumber: Khoirul Anam, kru Humas YDSF Surabaya)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ydsf.org/v2b/1-600-guru-al-quran-terima-santunan-zakat-ydsf/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tanpa Kepedulian Hidup Menjadi Mahal</title>
		<link>http://www.ydsf.org/v2b/tanpa-kepedulian-hidup-menjadi-mahal</link>
		<comments>http://www.ydsf.org/v2b/tanpa-kepedulian-hidup-menjadi-mahal#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 07:58:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>itworks</dc:creator>
				<category><![CDATA[Untaian Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ydsf.org/?p=396</guid>
		<description><![CDATA[<p>Hidup ini adalah kepedulian. Hidup ini bisa berjalan dengan baik dan harmonis karena masih ada yang peduli, dan keberadaan kita masih berarti bagi orang lain karena kita punya “harta”selain harta benda yaitu “ Kepedulian”.<span id="more-396"></span></p>
<p>Ketika mendengar kata “ kepedulian”&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hidup ini adalah kepedulian. Hidup ini bisa berjalan dengan baik dan harmonis karena masih ada yang peduli, dan keberadaan kita masih berarti bagi orang lain karena kita punya “harta”selain harta benda yaitu “ Kepedulian”.<span id="more-396"></span></p>
<p>Ketika mendengar kata “ kepedulian” pikiran kita biasanya langsung tertuju pada penderitaan orang lain. Ini sudah benar hanya saja kepedulian itu bisa mencakup hal-hal yang lebih luas. Misalnya kepedulian kepada perilaku generasi muda yang sudah rusak, kepedulian kepada para pemimpin yang kurang peduli, kepedulian kepada tontonan televisi yang cenderung merusak daripada memperbaiki, Kepedulian terhadap dunia pendidikan kita yang cenderung kurang mendidik dan  kepedulian-kepedulian lainnya yang bisa kita sebutkan sendiri.</p>
<p>Seorang dai rela hidup dipedalaman terpencil dengan hidup yang pas-pasan  dan apa adanya dengan tantangan dakwah yang cukup berat. Apa yang membuatnya bertahan? Kepedulian. Kepedulian akan keberlangsungan dakwah islam. Kepedulian untuk menyelamatkan banyak orang kedalam cahanya Islam.</p>
<p>Seorang guru rela berjalan kaki berkilo-kilo meter untuk mengajar di desa terpencil. Apa yang menggugahnya? Kepedulian. Seorang karyawan/ti di sebuah perusahaan yang gajinya pas-pasan tetapi masih sempat menyisihkan uangnya lewat YDSF Surabaya. Apa yang mendorongnya? Kepedulian:</p>
<p><em>“Bukan golongan kami orang yang tidak menyayangi yang lebih kecil dan menghormati yang lebih besar</em>” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)</p>
<p>Hadist ini memang  terkait  dengan adab kesopanan  antara yang muda dan yang tua. Tetapi makna hadist ini bisa diperluas antara penghormatan orang miskin (baca: kecil) dan kepedulian orang kaya ( baca: besar).</p>
<p>Lantas dengan apa kita peduli? Kepedulian itu muncul dari hati. Jika hati ini telah dikaruniai “harta kepedulian”. Maka apapun yang kita miliki bisa menjadi sarana kepedulian. Bagi mereka yang belum punya apa-apa berikanlah kepedulian senyuman, karena dengan senyuman cerahlah dunia ini dan tentramlah hatinya dan orang-orang disekitarnya. Bagi mereka yang punya ilmu berikanlah kepedulian dengan menyebarkan ilmu. Bagi yang punya harta sisihkanlah hak orang-orang yang kurang mampu  yang masih melekat  pada pada hartanya yaitu zakat.</p>
<p>Orang desa begitu bersahaja. Mereka tidak bingung tanpa memiliki uang. Toh merka masih bisa makan dari hasil pertanian mereka. Dan juga  masih banyak tetangga yang memberikan kepedulian. Jika sakit satu kampung akan menjenguknya. Mereka saling berbagi apa yang mereka punya.</p>
<p>Jika ada tamu mereka rela tidak kesawah demi menemani tamu sampai pulang.  Kalau tidak memberi suguhan makan rasanya kurang afdlan. Jika tidak mempunyai suguhan yang layak, mereka akan mengeluarkan harta terbaiknya yaitu memotong ayam yang mungkin satu-satunya atau salah satu dari beberapa ekor ayam yang dia punya hanya untuk tidak mengecawakan sang tamu. Padahal uang begitu berharga bagi mereka. Betapa indahnya kepedulian.</p>
<p>Tetapi lihatlah kehidupan di kota. Jarangnya kepedulian kita temui membuat garang kehidupan kota. Segala sesuatu  di hitung dengan uang. Sampai ada ungkapan:” hanya kentut yang tidak bayar”.</p>
<p>Ketika kepedulian sudah sangat jarang kita temui. Betapa hambarnya hidup ini. Hidup menjadi mahal karena segala sesuatu dinilai dengan materi.  Semua orang hanya memikirkan dirinya sendiri.  Senyum begitu sulit, guru tidak mau mengajar kalo tidak ada gaji. Orang kaya hanya berfikir bagaimana menghabiskan hartanya.  Apakah memang kepedulian di kehidupan kota ini memang sudah padam? Jawabanya tidak. Kepedulian itu masih ada. Hanya saja masih tertahan oleh sesuatu. Insya Allah akan di bahas di tulisan selanjutnya dengan judul:  Selimut Kepedulian.</p>
<p>Adhan Sanusi<br />
Bidang Dakwah YDSFSurabaya</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ydsf.org/v2b/tanpa-kepedulian-hidup-menjadi-mahal/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memburu Lailatul Qadar</title>
		<link>http://www.ydsf.org/v2b/memburu-lailatul-qadar</link>
		<comments>http://www.ydsf.org/v2b/memburu-lailatul-qadar#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Sep 2010 11:42:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Oki Aryono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Untaian Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[lailatul qadar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ydsf.org/?p=390</guid>
		<description><![CDATA[<p>Secara tegas Allah belum pernah memberitahu kita pada malam keberapakah <em>lailatul qadar</em>, agar kita bersungguh-sungguh berupaya beribadah secara giat di seluruh malam-malam Ramadhan. Sehingga pahala dan ganjaran kebaikan kita menjadi banyak –sebagai bentuk kasih sayang-Nya kepada kita.</p>
<p><span id="more-390"></span></p>
<p><strong> </strong>&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Secara tegas Allah belum pernah memberitahu kita pada malam keberapakah <em>lailatul qadar</em>, agar kita bersungguh-sungguh berupaya beribadah secara giat di seluruh malam-malam Ramadhan. Sehingga pahala dan ganjaran kebaikan kita menjadi banyak –sebagai bentuk kasih sayang-Nya kepada kita.</p>
<p><span id="more-390"></span></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Di antara banyaknya pintu gerbang kebaikan di bulan Ramadhan adalah  <em>lailatul qadar</em> (malam kemuliaan). Karena beribadah di malam itu diberi pahala dan ampunan. Rasulullah Muhammad saw. bersabda, “ Siapa saja yang melaksanakan ibadah pada <em>lailatul qadar</em> dengan penuh iman dan penghitungan akan besarnya pahalanya, dosa yang telah lalu akan diampuni” (HR. Bukhari &amp; Muslim, dari Abu Hurairah ra).</p>
<p>Karena kemuliaan dan tingginya kedudukan mala mini, Allah swt. telah menurunkan wahyu-Nya sehingga menjadi surat secara khusus menjelaskan keistimewaan malam ini. Firman-Nya, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu malaikat-malaikat dan <em>Ar Ruh</em> turun dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”  (QS. Al Qodar 1-5). Dari surat ini, kita tahu beberapa keistimewaan <em>lailatul qadar</em>, antara lain: <strong> </strong></p>
<p><strong>1. </strong><strong>Malam itu merupakan malam diturunkannya Al Quran</strong></p>
<ol></ol>
<p>Ibnu Abbas ra, salah satu sahabat Nabi saw. yang punya wawasan luas terhadap tafsir Al-quran, menyatakan, “Proses penurunan wahyu oleh Jibril dalam suatu malam sekaligus (jumlah wahidah) dalam <em>lailatul qadar</em> , dari Lauhul Mahfudz (catatan nasib dan amal yang terjaga) ke langit dunya (langit terendah) kemudian ke Baitul Izzah. Kemudian Jibril menurunkannya secara bertahap dan terpisah-pisah dalam 23 tahun.”</p>
<p>Allah swt. berfirman, “Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?” (QS. Alqadar 2).</p>
<p>Ayat ini memberi kesan tentang tingginya nilai malam ini. Karena ayat ini menunjukkan bah wa ketinggian nilainya berada di luar jangkauan tataran (pemahaman) para makhluk –sehingga sang makhluk tidak mengetahui hakikat nilainya yang mulia kecuali Allah saja. Namun Allah memberi penjelasan yang dapat mendekatkan kepada pemahaman kita tentang kemuliaan dan keutamaan <em>lailatul qadar</em>. <strong></strong></p>
<p><strong>2. </strong><strong>Lebih baik dari seribu bulan</strong></p>
<ol></ol>
<p>Malam yang sarat dengan keberkahan ini lebih baik. Menurut salah satu pendapat, arti lebih baik dari seribu bulan ini adalah lebih baik daripada 33 tahun ditambah 4 bulan. Pendapat lain menyatakan , gambaran seribu bulan memiliki arti selama-lamanya (<em>jami’ ad dahr</em>). Karena menurut penggunaan bahasa Arab, kata <em>alaf</em> (seribu) menunjukkan batasan tertinggi dari segala sesuatu sebagaimana firman Allah, “Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan”  (QS. Al-baqarah 96). Beribu-ribu tahun artinya dalam jangka waktu yang amat lama. <strong></strong></p>
<p><strong>3. </strong><strong>Para malaikat turun </strong></p>
<ol></ol>
<p>“Pada malam itu malaikat-malaikat dan <em>Ar Ruh</em> turun dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan” (QS. Al qadar 4). Kata <em>Ar Ruh</em> dalam ayat di atas adalah Jibril dan penyebutan kata <em>Ruh</em> setelah malaikat dengan kata konjungsi <em>wawu athaf</em> menunjukkan keterkaitan antara yang umum dan yang khusus, untuk menunjukkan sisi kemuliaan malam itu.</p>
<p>Menurut Ibnu Katsir, ayat ini bermakna, “Pada waktu itu, malaikat kerap kali turun dari langit bersama turunnya keberkahan dan rahmat –sebagaimana saat mereka turun tatkala bacaan ayat alquran dilantunkan, dating memenuhi <em>halaqah</em> (majelis) zikir dan merentangkan sayap mereka untuk menaungi orang yang ikhlas untuk menuntut ilmu, sebagai tanda penghargaan bagi penuntut ilmu itu.”</p>
<p>Imam Qurthubi dalam kitab <em>Tafsir</em>-nya menyatakan bahwa para malaikat turun atau atau ‘turun dari langit’ dari Sindratil Muntaha untuk ikut mendoakan (mengamini) seorang hamba yang memohon dalam doanya pada malam itu hingga fajar terbit.” <strong></strong></p>
<p><strong>4. </strong><strong>Keselamatan menyelimuti <em>lailatul qadar</em></strong></p>
<ol></ol>
<p>“Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar” (QS. Al Qadar 5). Adh Dhahhak menyatakan, “Allah tak akan menakdirkan malam itu kecuali keselamatan. Adapaun pada malam-malam lain, Allah telah menetapkan berbagai ujian tetepi juga keselamatan.” Mijahid menafsirkan, “Malam itu adalah malam yang berisi keselamatan hingga setan tidak bisa menimbulkan pengaruh buruk di dalamnya atau berbuat sesuatu yang mencelakakan. “</p>
<p>Terkait malam keberapa <em>lailatul qadar</em> akan turun, banyak pendapat mengemuka. Ada yang menyebut di antara malam-malam 20an yang ganjil (21, 23, 27, 29, dsb.). Ada pula yang menyebut malam 24. Ada pula yang membantah pendapat-pendapat tersebut. Karena tidak keterangan dari Al Quran maupun hadits yang kuat. Hanya Allah yang tahu.</p>
<p>Yang pasti, pada 10 malam terakhir Nabi saw. semakin giat beribadah. Aisyah ra menuturkan, “Nabi saw. biasa beriktikaf pada 10 hari tekahir Ramadhan dan bersabda, ‘Bersungguh-sungguhlah dalam mencari malam <em>lailatul qadar</em> pada 10 hari akhir Ramadhan” (HR. Bukhari &amp; Muslim).</p>
<p>Jelasnya, secara tegas Allah belum pernah memberitahu kita pada malam keberapakah <em>lailatul qadar</em>, agar kita bersungguh-sungguh berupaya beribadah secara giat di seluruh malam-malam Ramadhan. Sehingga pahala dan ganjaran kebaikan kita menjadi banyak –sebagai bentuk kasih sayang-Nya kepada kita.</p>
<p><strong>Nabi saw. Ajarkan Doa</strong></p>
<p>Doa paling utama di <em>lailatul qadar</em> adalah sesuai dengan doa yang diriwayatkan oleh Aisyah ra ketika bertanya kepada Nabi saw, “Beritahukanlah kepadaku jika aku merasakan telah menemukan <em>lailatul qadar</em>. Apa yang kubaca pada waktu itu?” Nabi saw. menjawab <em>Allahumma innaka afuwwun tuhibbul afwa fa’fu anni</em> ‘Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, menyenangi maaf. Maka, maafkanlah aku’ (HR. Tirmidzi, Ahmad, An Nasai, Ibnu Majah, dan Hakim).(sumber: <em>Kultum Ramadhan</em>, Dr. Abdul Muhaimin Thahhan, Risalah Gusti, 2009, hlm. 271-279).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ydsf.org/v2b/memburu-lailatul-qadar/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Maksud dan Tujuan Alquran Dalam Kehidupan Manusia</title>
		<link>http://www.ydsf.org/v2b/maksud-dan-tujuan-alquran-dalam-kehidupan-manusia</link>
		<comments>http://www.ydsf.org/v2b/maksud-dan-tujuan-alquran-dalam-kehidupan-manusia#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Aug 2010 08:34:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Oki Aryono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Untaian Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[alquran tujuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ydsf.org/?p=385</guid>
		<description><![CDATA[<p>Al Quran itu dianugerahkan-Nya bagi manusia sebagai petunjuk hidup manusia dan terdapat penjelasan-penjelasan tentang petunjuk itu sekaligus pembeda antara yang benar dan yang salah. Karena itu, adalah keharusan bagi kita untuk memperhatikan dan memahami lebih dalam tujuan-tujuan Al Quran.</p>
<p><span id="more-385"></span>&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Al Quran itu dianugerahkan-Nya bagi manusia sebagai petunjuk hidup manusia dan terdapat penjelasan-penjelasan tentang petunjuk itu sekaligus pembeda antara yang benar dan yang salah. Karena itu, adalah keharusan bagi kita untuk memperhatikan dan memahami lebih dalam tujuan-tujuan Al Quran.</p>
<p><span id="more-385"></span></p>
<p>Salah satu ciri menonjol dari bulan Ramdhan dibanding bulan-bulan lainnya adalah ramainya kumandang bacaan Alquran. Memang Ramadhan juga disebut sebagai Syahrul Quran. Karena Al-Quran pertama turun pada bulan Ramadhan (QS. Al-baqarah 185). Makanya, tak heran jika kaum muslimin seakan-akan berlomba membaca kitabullah saat Ramadhan, baik sendirian maupun berkelompok. Tidak hanya di masjid atau mushala, bahkan di perkantoran dan media elektronik -seperti radio- juga lazim kita dengarkan lantunan ayat suci Al Quran.</p>
<p>Di balik itu, kita perlu memperhatikan makna dan maksud yang terkandung dalam Al Aquran. Dalam keutamaan membaca Al Quran yang memang dijanjikan berpahala, terdapat tujuan-tujuan diturunkannya Al Quran bagi kehidupan manusia. Hal ini bisa kita tilik pada rangkaian ayat-ayat yang menerangkan bulan Ramadhan dan puasa (QS. Al Baqarah 183-187).</p>
<p>Di tengah-tengah perintah berpuasa di bulan Ramadhan, Allah menyelipkan tujuan diturunkannya Al Quran. Allah berfirman, “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang <em>haq</em> dan yang <em>bathil</em>)” (QS. Al Baqarah 185).</p>
<p>Berdasar ayat tersebut, Al Quran itu dianugerahkan-Nya bagi manusia sebagai petunjuk hidup manusia dan terdapat penjelasan-penjelasan tentang petunjuk itu sekaligus pembeda antara yang benar dan yang salah. Karena itu, adalah keharusan bagi kita untuk memperhatikan dan memahami lebih dalam tujuan-tujuan Al Quran. Berikut ini sekelumit tentang tujuan-tujuan Al Quran (diolah dari <em>Bagaimana Interaksi dengan Al Quran</em>, Yusuf Al-Qaradhawi, Al Kautsar, hlm. 67-129): <strong> </strong></p>
<p><strong>1. </strong><strong>Meluruskan aqidah dan berbagai persepsi/kepercayaan</strong></p>
<ol></ol>
<p>Tujuan yang pertama dari upaya meluruskan akidah ini tecermin dari: <strong> </strong></p>
<p><strong>a. </strong><strong>Meneguhkan sendi-sendi tauhid (keesaan Allah)</strong></p>
<ol></ol>
<p>Al Quran menganggap syirik sebagai kejahatan paling besar yang dilakukan manusia. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar” (QS. Annisa 48).</p>
<p>Sebab, syirik merupakan kezaliman terhadap hakikat, pemalsuan terhadap kenyataan dan penurunan martabat manusia dari kedudukannya sebagai pemimpin alam semesta sebagaimana dikehendaki Allah. Lalu dengan berbuat syirik, manusia beralih ke martabat penghambaan dan ketundukan kepada makhluk baik berupa benda mati, tumbuhan, hewan, manusia, dll.</p>
<p>Allah berfirman lewat pesan Luqman kepada putranya, ”&#8230;Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar&#8221; (QS. Luqman 13).</p>
<p>Alquran membuka jalan bagi Allah dan manusia sehingga tidak ada tempat bagi perantara dan pengantar yang membual dan mengaku memiliki simpanan hubungan antara Allah dan makhluk-Nya. Para perantara ini menumbuhkan persepsi di benak manusia bahwa tak seorang pun bisa sampai kepada Allah kecuali lewat perantara itu.</p>
<p>Padahal pintu (ampunan dan doa) Allah terbuka bagi siapa pun yang menghendaki-Nya. Allah berfirman, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS. Al baqarah 186). Firman-Nya yang lain, “Dan Tuhanmu berfirman, &#8220;Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu” (QS. Al Mukmin 60).</p>
<p>Al Quran memperbaiki sendi tauhid yang dirusak agama paganis (penyembah berhala) dan ahli kitab. Yahudi menganggap Allah serupa dengan makhluk yaitu Allah itu lelah, menyesal, takut, mendengki, memusuhi orang Israel sehingga mereka dapat mengalahkan-Nya.</p>
<p>Sementara agama Nasrani tersusupi paganism Romawi sehingga paganisme ini memenuhi gereja dengan berbagai patung dan gambar. Lalu muncul keyakinan trinitas, salib dan penebusan dosa yang berasal dari ajaran Hindu dalam Kresna. Mereka menghapus nama Kresna lalu menggantinya dengan nama Yesus. <strong> </strong></p>
<p><strong>b. </strong><strong>Meluruskan Akidah tentang Nubuwah dan Risalah</strong></p>
<ol></ol>
<ul>
<li>Menjelaskan kebutuhan terhadap nubuwah (kenabian) dan risalah, sehingga manusia tidak punya alasan di hadapan Allah setelah diutusnya para rasul itu</li>
</ul>
<p>“Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman” (QS. An Nahl 64).</p>
<ul>
<li>Menjelaskan tugas para rasul dan menyenpaikan kabar gembira dan peringatan. Mereka bukan tuhan yang disembah dan bukan pula anak-anak tuhan. Tapi mereka manusia biasa yang mendapat wahyu. Mereka hanya menyampaikan seruan kepada keesaan Allah dan tak kuasa member petunjuk hati atau menguasai hati manusia.</li>
</ul>
<p>“Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka” (QS. Al Ghassiyyah 21-22).</p>
<ul>
<li>Mendustakan berbagai syubhat yang dibangkitkan orang-orang terdahulu di hadapan para rasul seperti perkataan mereka, “Sekiranya Allah menghendaki, tentu Dia akan menurunkan para malaikat (kepada kami).” Firman-Nya, “Katakanlah, ‘Kalau seandainya ada malaikat-malaikat yang berjalan-jalan sebagai penghuni di bumi, niscaya Kami turunkan dari langit kepada mereka seorang malaikat menjadi rasul’&#8221; (QS. Al Kahfi 95).</li>
<li>Menjelaskan akibat orang yang membenarkan para rasul dan yang mendustakan.</li>
</ul>
<p>“Kemudian Kami selamatkan rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman, demikianlah menjadi kewajiban atas Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman” (QS. Yunus 103). <strong></strong></p>
<p><strong>c. </strong><strong>Memantapkan akidah iman kepada akhirat dan pembalasan </strong><strong> </strong></p>
<ol></ol>
<p>Ada beberapa cara yang dipakai Alquran untuk memantapkan aqidah, antara lain:</p>
<ul>
<li>Menghadirkan dalil-dalil tentang kemungkinan hari kebangkitan dengan menjelaskan kekuasaan Allah untuk mengembalikan makhluk seperti sedia kala</li>
</ul>
<p>“Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. Dan bagi-Nya-lah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. Ar Rum 27).</p>
<ul>
<li>Peringatan tentang penciptaan alam yang besar sehingga penciptaan manusia ternyata sesuatu yang kecil bagi Allah</li>
</ul>
<p>“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan bumi dan Dia tidak merasa payah karena menciptakannya, kuasa menghidupkan orang-orang mati? Ya (bahkan) sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu” (QS. Al Ahqaf 33).</p>
<ul>
<li>Menjelaskan hikmah Allah dalam hari pembalasan. Agar orang berbuat baik tidaklah sama dengan yang berbuat jahat sehingga hidup ini tidak sia-sia.</li>
</ul>
<p>“Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat?” (QS. Shad 28).</p>
<ul>
<li>Menjelaskan janji yang ditunggu orang beriman dan akibat bagi orang kafir di akhirat kelak</li>
</ul>
<p>“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)” (QS. An Naziat 35-41).</p>
<ul>
<li>Mengugurkan berbagai macam prasangka yang dihembuskan orang kafir dan musyrik bahwa sesembahan mereka akan memintakan syafaat dari sisi Allah kelak. Juga menangkis kepercayaan ahli kitab yang akan mendapat syafaat dari sisi Allah lewat pendeta mereka.</li>
</ul>
<p>“Bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya” (QS. An najm 38-39). <strong></strong></p>
<p><strong>2. </strong>Menetapkan kemuliaan manusia dan hak-haknya<strong></strong></p>
<p><strong>a. </strong>Menetapkan kemuliaan manusia</p>
<p>“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan” (QS. Al Isra 70). <strong></strong></p>
<p><strong>b. </strong><strong>Menetapkan hak-hak asasi manusia (HAM)</strong></p>
<ol></ol>
<ul>
<li>hak kebebasan berpikir. “Katakanlah, &#8220;Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi…” (QS. Yunus 101).</li>
<li>hak kebebasan berkeyakinan. “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat…” (QS. Albaqarah 256).</li>
<li>hak kebebasan berkata, menyuruh atau melarang. “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma´ruf, mencegah dari yang munkar…” (QS. At Taubah 71).</li>
<li>hak persamaan derajat. “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu…” (QS. AlHujurat 13).</li>
</ul>
<p>Masih banyak hak manusia lainnya, baik sebagai individu, dalam keluarga, masyarakat maupun bernegara. <strong></strong></p>
<p><strong>c. </strong><strong>Menguatkan hak orang-orang yang lemah</strong></p>
<ol></ol>
<p>Al quran juga menaruh perhatian dan kepedulian secara khusus bagi orang-orang lemah. Karena kuatir mereka akan menjadi objek penindasan orang-orang yang kuat atau keadaan mereka diabaikan para penguasa dan mereka yang mestinya bertanggung jawab</p>
<ul>
<li>Anak yatim. “…terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang” (QS. Ad Dhuha 9).</li>
<li>Orang miskin. “Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar. Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin” (QS. Al Haqqah 33-34).</li>
</ul>
<p>“Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa, ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!’” (QS. An Nisa 75). <strong></strong></p>
<p><strong>3. </strong><strong>Ibadah dan takwa kepada Allah </strong><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<ol></ol>
<p>Tidak ada satu pun dari kitab-kitab suci yang menghimpun pujian kepada Allah, mengingatkan keluasan ilmu-Nya, ketinggian hikmah, keagungan kekuasaan, ketidakterbatasan kehndak, keagungan ciptaan, kelapangan rahmat, pengaruh rububiyah (kemahapenciptaan Allah), berdiri di hadapan-Nya, anjuran ibadah kepada-Nya, mengharap karunia-Nya, ketundukan kepada-Nya, ikhlas karena-Nya, tenggelam dalam kecintaan kepada-Nya, bersyukur dan bertawakkal kepada-Nya, sabar terhadap Nya dan ridha terhadap qadha-Nya selain dari Al Quran. Berikut ini contoh-contohnya:</p>
<ul>
<li>Ibadah. “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (QS. Adz Dzariyat 56).</li>
<li>Syukur. “Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan bumi?” (QS. Fathir 3).</li>
<li>Takwa. “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar” (QS. Al Ahzab 70-71).</li>
</ul>
<p>Dan masih banyak lagi contoh lainnya. <strong></strong></p>
<p><strong>4. </strong><strong>Mensucikan (Tazkiyah) Jiwa Manusia</strong></p>
<ol></ol>
<p>Al Quran mengajak untuk mensucikan jiwa manusia. Tak ada keberuntungan di dunia dan akhirat kecuali dengan pensucian ini. “Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya” (QS. Asy Syams 7-10).</p>
<p>“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata” (QS. Ali Imran 164).</p>
<p>Terkait ini, secara global tugas Nabi saw. ada dua:</p>
<p><strong> </strong></p>
<ul>
<li>Mensucikan akal dari khurafat syikirk dan kebatilan-kebatilannya, mensucikan hati dari kekerasan dan kekasaran Jahiliyah, mensucikan kehendak dari syahwat hewani dan ambisi liar serta mensucikan perilaku dari kehinaan jahiliyah</li>
<li>Menumbuhkan akal dengan ma’rifat (pemahaman yang terang), menumbuhkan hati dengan iman, menumbuhkan kehendak untuk melaksanakan amal shalih dan menumbuhkan perilaku dengan mengikuti keadilan, kebajikan, dan akhlak yang mulia.</li>
</ul>
<p><strong>5. Membentuk Rumah tangga dan berbuat adil terhadap wanita</strong></p>
<p>a. Perkawinan. “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (QS. Ar Rum 21)</p>
<p>Al Quran menentang dua kecenderungan yang menyimpang terkait fitrah syahwat seksual:</p>
<ul>
<li>Kecenderungan kerahiban/kebiarawanan yang bertentangan dengan fitrah serta mengharamkan perkawinan</li>
</ul>
<ul>
<li>Kecenderungan permisivisme yang memberikan kebebasan seks tanpa batas ataupun kendali</li>
</ul>
<p>b. Keturunan yang baik. “Dan orang orang yang berkata, ‘Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa’” (QS. Al Furqan 74).</p>
<p>c. Kesamaan agama dalam perkawinan. “Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran” (QS. Al baqarah 221).</p>
<p>d. Keadilan terhadap wanita dan membebaskannya dari kezaliman</p>
<ul></ul>
<p>“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (QS. An Nahl 97). <strong></strong></p>
<p><strong>6. </strong><strong>Membangun Umat yang menjadi Saksi atas kehidupan manusia</strong></p>
<ol></ol>
<p>Al Quran bertujuan untuk membangun suaru umat yang hebat, dan unggul yang melaksanakan risalahnya, membentuk kehidupan yang berdasarkan aqidah dan syariatnya, mendidik generasi muda di atas petunjuknya, memikul risalahnya ke seluruh alamsambil menyebarkan rahmat dan kebaikan kepada manusia.</p>
<p>“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu…” (QS. An Nisa 135).</p>
<p>Sifat-sifat penting umat berdasar Al Quran:</p>
<ol>
<li><em>Rabbaniyah</em> (mengajarkan &amp; mempelajari Al Quran). “…Hendaklah kamu menjadi orang-orang <em>rabbani</em>, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya” (QS. Ali Imran 79).      ]</li>
<li>Wassthiyah (umat pertengahan). “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang <em>wasath</em> (adil/pertengahan) dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu…” (QS. Al Baqarah 143).</li>
<li>Dakwah. “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma´ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…” (QS. Ali Imran 110).</li>
<li>Persatuan. “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara…” (QS. Ali Imran 103).</li>
<li>Keyakinan terhadap suatu umat tidak menghilangkan kekhususan yang dimiliki setiap umat</li>
</ol>
<p>“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka…” (Qs. Al Mujadalah 22). <strong></strong></p>
<p><strong>7. Seruan ke alam manusia yang saling tolong-menolong</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<ol></ol>
<p>Sejak risalahnya pertama kali, Al Quran merupakan risalah yang mendunia, dakwah bagi semua manusia, rahmat bagi setiap hamba Allah, entah mereka itu bangsa Arab atau bukan.</p>
<p>“Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam” (QS. Al Furqan 1).</p>
<p>“…katakanlah, ‘Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Quran)’. Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh ummat” (QS. Al An’am 90).</p>
<p>Rahmat ini tampak pada sejumlah prinsip, di antaranya:</p>
<ul>
<li>Membebaskan manusia dari penyembahan/penghambaan kepada manusia</li>
</ul>
<p>“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib (pendeta) mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putra Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan” (QS. At Taubah 31).</p>
<ul>
<li>Persaudaran dan persamaan antarmanusia</li>
</ul>
<p>“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal…” (QS. Al Hujurat 13).</p>
<ul>
<li>Keadilan untuk semua manusia</li>
</ul>
<p>“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS. An Nisa 58).</p>
<ul>
<li>Perdamaian Internasional</li>
</ul>
<p>“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. Al Anfal 61).</p>
<p>“…tetapi jika mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangi kamu serta mengemukakan perdamaian kepadamu maka Allah tidak memberi jalan bagimu (untuk menawan dan membunuh) mereka” (QS. An Nisa 90).</p>
<ul>
<li>Tenggang rasa terhadap nonmuslim</li>
</ul>
<p>“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim” (QS. Al Mumtahanah 8-9).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ydsf.org/v2b/maksud-dan-tujuan-alquran-dalam-kehidupan-manusia/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Diterima lalu dikasih lagi= Terima kasih?</title>
		<link>http://www.ydsf.org/v2b/diterima-lalu-dikasih-lagi-terima-kasih</link>
		<comments>http://www.ydsf.org/v2b/diterima-lalu-dikasih-lagi-terima-kasih#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Aug 2010 08:57:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adhan Sanusi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Untaian Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ydsf.org/?p=376</guid>
		<description><![CDATA[<p>Sangat sering kita menggunakan ucapan termakasih. Sebenarnya ada kata pengganti yang jauh lebih baik. Apakah itu?<span id="more-376"></span></p>
<p>Hal yang lumrah untuk membalas   kebaikan  orang lain adalah dengan memberinya pujian dan  ucapan  <em>terimakasih</em> atau  <em>sakalangkong</em> dalam bahasa madura. Ucapan ini menentramkan&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sangat sering kita menggunakan ucapan termakasih. Sebenarnya ada kata pengganti yang jauh lebih baik. Apakah itu?<span id="more-376"></span></p>
<p>Hal yang lumrah untuk membalas   kebaikan  orang lain adalah dengan memberinya pujian dan  ucapan  <em>terimakasih</em> atau  <em>sakalangkong</em> dalam bahasa madura. Ucapan ini menentramkan bagi si pemberi karena pemberiannya dihargai dan  bagi yang mengucapkan peluang  untuk mendapatkan pemberian kembali dari orang lain lebih besar.  Sebaliknya orang yang tidak tahu berterimakasih,  cenderung akan menjadikan orang lain membatasi pemberian terhadapnya.</p>
<p>Ada ucapan yang lebih baik dalam Islamdari sekedar mengucapkan  ucapan terimakasih yaitu: Jazakallah khair  (semoga Allah membelas anda dengan kebaikan). Ucapan ini sangat agung maknanya dibanding ucapan terima kasihan,  karena mengandung doa kebaikan bagi si pemberi dan tentu saja menentramkan jiwanya. Asalkan dia  memahami maksudnya. Kalimat ini merupakan sebaik-baik balasan bagi orang lain. Nabi bersabda ;</p>
<p>“Barasiapa yang mendapat kebaikan dari orang lain kemudian berkata: “ Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan “ maka sungguh telah memuji dengan sebaik-baik pujian. (HR Tirmidzi)</p>
<p>Hadist ini dikuatkan oleh perbuatan sesama shahabat sebagaimana terdapat dalam riwayat Bukhari, Muslim, Nasa’i.</p>
<p>Saya sendiri belum memahami betul makna dari susunan kata terima kasih. Dulu ada teman yang memplesetkan kata ini dengan nada gurau pada seorang wanita yang sedang  mengembalikan pinjamannya sambil mengucapkan  terima kasih  lalu teman saya membalas: “oia, kasihmu saya terima”. Tentu hal ini kurang pas.</p>
<p>Ada seorang ustadz yang menjelaskan bahwa makna terima kasih sangat dalam, karena  terkait dengan nikmat yang kita peroleh. Kata  Terima kasih kalo diartikan bermakna  setiap kali kita menerima kebaikan, baik berupa harta atau ilmu sebaiknya langsung kita sisihkan untukdi kasihkan pada orang lain. Ucapan ini  mengisyaratkan  untuk memperbanyak kepedulian (kasih)  kepada orang lain setiap kali mendapatkan nikmat kebaikan (terima).<br />
Beda Terima kasih dan Jazakallah Khair</p>
<p>Terimakasih dan jazakallah khair sama-sama memberikan pengaruh positif pada jiwa sipemberi, yaitu pemberiannya merasa dihargai.</p>
<p>Perbedaannya terletak pada nilainya di dalam Islam. Ucapan terimakasih, sakalangkong, maturnowun dan yang sejenisnya adalah muncul dari budaya bahasa setempat. Bahasa ini muncul karena desakan kebutuhan untuk mengungkapkan rasa penghargaan atas kebaikan orang lain dalam sebuah kalimat. kalimat  ini tidak mempunyai nilai khusus dalam Islam dan tidak berpahala, tetapi tetap bernilai dari sisi nilai umumnya yaitu berkata yang baik.</p>
<p>Sedangkan ucapan Jazakallah khair  untuk laki-laki dan Jazakillah khair  untuk wanita adalah tuntunan langsung dari Allah melaui lisan Rasul-Nya dan setiap mengucapkannya bernilai pahala.</p>
<p>Jadi, ucapan terimakasih hanya mengandung satu faidah yaitu ketentraman bagi orang sipemberi sedangkan jazakallah khair mengandung dua faidah yaitu ketentraman dan mengucapkannya bernilai phala.</p>
<p>Tentu memilih menggunakan kedua kata tersebut sangat tergantung situasinya. Kepada orang awam dan belum pernah mendengarkan kata Jazakallah khair sebaiknya menggunakan bahasa lokal yang dipahaminya terlebih dahulu.</p>
<p>Adhan Sanusi<br />
Bidang Dakwah YDSF Surabaya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ydsf.org/v2b/diterima-lalu-dikasih-lagi-terima-kasih/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Buah-buah Keikhlasan</title>
		<link>http://www.ydsf.org/v2b/buah-buah-keikhlasan</link>
		<comments>http://www.ydsf.org/v2b/buah-buah-keikhlasan#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Aug 2010 09:35:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Oki Aryono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Untaian Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[ikhlas dampak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ydsf.org/?p=366</guid>
		<description><![CDATA[<p> </p>
<p class="MsoNormal"><span></span></p>
<p class="MsoListParagraph" style="text-indent: -0.25in"> </p>
<p class="MsoNormal"><span>Salah satu dampak positif dari ikhlas adalah mendapat dukungan dari Allah dan akan dicukupi-Nya sebagaimana firman-Nya, “</span><span>Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya?” (QS. Az Zumar 36).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span id="more-366"></span></span></p>
<p class="MsoListParagraph"<p>&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--><!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 415 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-520092929 1073786111 9 0 415 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} p 	{mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0in; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoListParagraph, li.MsoListParagraph, div.MsoListParagraph 	{mso-style-priority:34; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:.5in; 	mso-add-space:auto; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} p.MsoListParagraphCxSpFirst, li.MsoListParagraphCxSpFirst, div.MsoListParagraphCxSpFirst 	{mso-style-priority:34; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:0in; 	margin-left:.5in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} p.MsoListParagraphCxSpMiddle, li.MsoListParagraphCxSpMiddle, div.MsoListParagraphCxSpMiddle 	{mso-style-priority:34; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:0in; 	margin-left:.5in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} p.MsoListParagraphCxSpLast, li.MsoListParagraphCxSpLast, div.MsoListParagraphCxSpLast 	{mso-style-priority:34; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:.5in; 	mso-add-space:auto; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:459619061; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-929416332 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 	{mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-.25in;} ol 	{margin-bottom:0in;} ul 	{margin-bottom:0in;} --><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:&quot;Table Normal&quot;; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:&quot;&quot;; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0in; 	mso-para-margin-right:0in; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:&quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&quot;; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} --> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><span></span></p>
<p class="MsoListParagraph" style="text-indent: -0.25in"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--><!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 415 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-520092929 1073786111 9 0 415 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:&quot;Table Normal&quot;; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:&quot;&quot;; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0in; 	mso-para-margin-right:0in; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:&quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&quot;; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} --> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><span>Salah satu dampak positif dari ikhlas adalah mendapat dukungan dari Allah dan akan dicukupi-Nya sebagaimana firman-Nya, “</span><span>Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya?” (QS. Az Zumar 36).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span id="more-366"></span></span></p>
<p class="MsoListParagraph" style="text-indent: -0.25in"><strong><span><span>1.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span>Kedamaian jiwa</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in"><span>Ikhlas memberii ketenangan batin sekaligus ketentraman dalam qalbu, bisa juga menyebabkan seseorang berlapang dada. Di dalam keikhlasan qalbu seutuhnya mengejar satu tujuan: keridhaan Allah. Segala dambaan difokuskan untuk satu tujuan. Inilah jalan spiritual yang dapat mengantarkan menuju keridhaan Allah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in"><span>Tak dapat disangkal bahwa tujuan yang sudah jelas dan konsitensi jalan spiritual yang mereka tempuh itu memiliki kekuatan yang membimbing kepada ketenangan spiritual, dari berbagai ujian berat dan kegalauan jiwa di tengah berbagai orientasi, konflik di tengah interes dan berbagai jalan hidup.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in"><span>Allah </span><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--><!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 415 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-520092929 1073786111 9 0 415 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:&quot;Table Normal&quot;; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:&quot;&quot;; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0in; 	mso-para-margin-right:0in; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:&quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&quot;; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} --> <!--[endif]--><span>menerangkan</span><span> bahwa seorang mukmin yang menyembah satu Tuhan saja diumpamakan seperti budak yang memeiliki satu pemilik (majikan) saja sehingga membuatnya lebih mengenal apa saja yang membuat majikannya senang dan kapan sesuatu membuat sang majikan tidak suka. Dengan begitu ia hanya menjadikan upaya untuk memuaskan tuannya dan mengerjakan apa yang tuannya sukai sebagai satu-satunya tujuan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in"><span>Pada sisi lain, Allah mengumpamakan seorang musyrik dengan gambaran seorang budak yang memiliki majikan lebih dari satu yang punya temperamen dan keinginan yang tak sama. Masing-masing majikan memberii perintah yang saling berlawanan dan menuntut permintaan yang juga saling berlawanan. Masing-masing memiliki tujuan sendiri-sendiri dan qalbu-qalbu mereka terpecah belah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in"><span>Allah berfirman, “Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); Adakah kedua budak itu sama halnya? Segala puji bagi Allah tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui” (QS. Az Zumar 39).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in"><span>Arti kata salaman dalam ayat di atas: seseorang (budak) yang murni (khalishan) dimiliki seorang tuan, bukan dimiliki oleh beberapa orang yang berlainan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in"><span>Dengan kemurnian ibadahnya kepada Allah semata, orang mukmin terbebas dari kesengsaraan penyembahan kepada selain-Nya. Maka dikatakan dalam hadits, “Kesengsaraan hamba dinar, hamba dirham dan hamba uang.” Sedangkan orang mukmin hatinya tenang &amp; berbahagia karena hidup dan ibadahnya hanya kepada Allah semata (dalam Niat &amp; Ikhlas [terjemahan], Yusuf Qardhawi, Al Kautsar &amp; Risalah Gusti, bab Buah Keikhlasan) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in"><span>Segala hasratnya terhimpun dalam satu wadah: keridhaan Allah. Orang ikhlas menjadikan niat dan tujuannya di dunia ini hanya untuk (bekal) di akhirat. Sehingga dia tidak menanggapi –atau bahkan menganggap remeh- apapun yang dijanjikan kehidupan duniawi untuknya.<span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in"><span>Rasulullah Muhammad saw. pernah bersabda, “Siapa saja yang menjadikan kehidupan dunia sebagai dambaannya, Allah akan menjauhkannya dari tujuannya itu dan menjadikan kehidupannya dalam kekurangan. Kehidupan dunia tidak akan diperolehnya kecuali yang hanya telah ditetapkan baginya. Sebaliknya, siapa saja yang menjadikan akhirat sebagai niat yang melatarbelakanginya, maka Allah akan memenuhi semua urusannya dan juga menjadikan kecukupan di dalam hatinya dan dunia menghampirinya dan dunia itu adalah sesuatu yang hina (di matanya)” (HR. Ibnu Majah, dalam Az Zawa’id no. 4105). </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="text-indent: -0.25in"><!--[if !supportLists]--><strong><span><span>2.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span>Kekuatan Spiritual</span></strong></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span>Keikhlasan memberi pelakunya kekuatan spiritual yang luar biasa. Itu karena ia mendapat sandaran dari cita-cita yang luhur yang ingin ia raih dengan jiwa yang diiringi dengan keikhlasan dan dengan mengesampingkan keinginan-keinginan yang lain. </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span>Seseorang yang memiliki kesarakahan dalam meraih kekayaan materi, kedudukan, gelar, dan kepemimpinan seseungguhnya adalah orang yang lemah. Ketika disadarkan untuk mewujudkan ambisinya terhadap dunia itu, dia akan merasakan kelemahannya di hadapan orang-orang yang berjasa memenuhi segala keinginannya itu. Dia akan merasa lemah tatkala jiwanya diliputi perasaan takut kehilangan sumber kekayaan atau kedudukan duniawinya. </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span>Berbeda dengan orang yang mencurahkan jiwanya untuk Allah, dia akan mendapatkan transfer kekuatan yang tak akan lekas mengendur. Oleh karena itulah, dalam upayanya memurnikan ikhlas, seseorang akan memiliki kekuatan yang bahkan melebihi kekuatan yang bersifat fisik. </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span>Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam Al Ghazali menuturkan sebuah kisah yang penuh dengan simbolisme kekuatan spiritual. Alkisah, ada seorang abid (ahli ibadah) yang mendengar yang disembah banyak orang. Dengan membawa kapak, dia bergegas menuju pohon dan berniat menebang phon tersebut. Dia bertekad untuk memutus fitnah penyembahan (syirik) dan penyakralan pohon itu. </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span>Di tengah perjalanan, iblis (yang menjelma) menghadang dan merayunya utnuk mengurungkan niatnya. Maka terjadilah perkelahian. Sang abid memenangkan pergulatannya. Di tangannya, sang iblis tidak lebih bagaikan seringan bulu. Lalu iblis melancarkan bujukan yang menipu. Iblis meminta sang abid agar pulang dan membiarkan pohon itu. Karena dengan memotongnya tidak aka nada gunanya dan dia tak akan sanggup menghalangi orang-orang untuk menyembah pohon-pohon yang lain. </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span>Iblis akan berjanji untuk memberii satu dinar kepada sang abid setiap hari yang akan dapat ia ambil dari bawah bantalnya. Dengan begitu ia dapat menyantuni fakir miskin. Begitulah iblis berusaha merayu hati sang abid agar menerima tawarannya itu. Iblis lalu menyerahkan uang dinar sebagai pembayaran pertama. Selanjutnya, dia menerima dinar setiap hari dari bawah bantalnya sebagai hasil kesepakatan antara mereka berdua. </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span>Hingga suatu hari sang abid dikejutkan oleh tidak datangnya kiriman dinar dari iblis seperti hari-hari sebelumnya. Sang abid masih bersabar untuk beberapa hari, mudah-mudahan temannya itu akan melunasi pemberian dinar per hari yang tertinggal. Setelah ditunggu-tunggu, tidak terjadi apa-apa.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span>Tanpa pikir panjang, tidak ada jalan lain bagi sang abid untuk mengambil kapaknya dan pergi menebang pohon itu. Akan tetapi iblis menghadang di tengah jalan dan terjadi pertarungan. Kali ini iblis mampu mengalahkan sang abid dengan mudah ibarat melawan seekor burung pipit. </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span>Dengan penuh keheranan, sang abid bertanya kepada iblis tentang rahasia di balik kemenangan itu. Iblis berkata, “Kemarahanmu pada (pertarungan) yang pertama adalah karena murni karena Allah. Oleh sebab itu, engkau memiliki kekuatan hebat yang tiada daya dan upaya bagiku untuk menandinginnya. Maka aku dengan mudah kalah di hadapanmu. Berbeda dengan sekarang, kemarahanmu adalah karena terhentinya kiriman uang dinar. Sehingga kekuatan yang luar biasa itu tak ada lagi padamu dan engkau dapat aku taklukkan secepat kilat.”</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span>Kekuatan spiritual ini juga menemukan pembenarannya saat perang pertama dalam masa kerasulan Nabi Muhammad saw. Saat perang Badar, dengan izin Allah kaum muslimin yang hanya 300an orang mampu menandingi dan bahkan memporakporandakan pasukan musyrik yang berjumlah 3 kali lipatnya. </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span>Ini sudah menjadi janji Allah untuk memberii kekuatan yang luar biasa bagi orang yang ikhlas. Allah berfirman, “Wahai Nabi, kabarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan seribu orang kafir, karena orang-orang kafir itu adalah kaum yang tidak mengerti” (QS. Al Anfal 65). </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span>Juga pada kisah Thalut. Dalam Al Quran Allah menceritakan, “Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: &#8220;Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku&#8221;. Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: &#8220;Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya&#8221;. Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: &#8220;Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar&#8221; (QS. Al Baqarah 249).</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span>Sejarah perjuangan bangsa Indonesia juga mengalami hal yang sama. Dengan kekuatan persenjataan yang minim, namun berbekal semangat juang yang tinggi dan rasa percaya pada kebesaran Allah, maka pasukan penjajah dibuat kewalahan oleh para lascar mujahidin negeri ini. Dengan pekik Allahu Akbar dan hanya dengan senjata seadanya, musuh dibuat kerepotan. </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span>Namun sebaliknya, meski berjumlah lebih banyak dari musuh namun dengan sikap sombong atau angkuh, tentu jumlah itu tidak punya kekuatan apa-apa. Ini terbukti saat perang Hunain yang saat itu Nabi saw. sempat berduel dengan musuh tatkala kaum muslimin tampak kocar-kacir. Allah menggambarkan suasana saat itu, “Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberii manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai” (QS. At Taubah 25).</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-indent: -0.25in"><!--[if !supportLists]--><strong><span><span>3.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span>Istiqamah dalam beramal</span></strong></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span>Sikap ikhlas akan mendorong pelakunya untuk beramal secara kontinyu. Sesungguhnya seseorang yang melakukan sesuatu demi manusia atau demi hasrat konsumtif dan seksualnya, bisa saja dia akan berhenti saat tidak menemukan sesuatu yang dapat memuasakan dorongan hasratnya itu. Seseorang yang berbuat sesuatu dengan harapan untuk memperoleh popularitas dan kedudukan, dia bisa saja akan menunda-nunda dan merasa berat hatinya saat mengetahui tujuan yang didambanya jauh dari kenyataan. </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span>Begitu pula seseorang yang melaksanakan sesuatu karena atasannya atau penguasa, bisa saja ia akan segera menghentikan pekerjaannya itu saat sang pimpinan meninggal dunia atau diturunkan dari jabatannya.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpLast"><span>Sebaliknya, seseorang yang berbuat demi Allah, dia tidak akan berhenti, tergoda atau menunda-nundanya. Karena orang yang beramal karena Allah tidak akan merasa sendirian dan ditinggalkan. Allah akan tetap selalu hadir manakala manusia tidak akan selalu ada dan makhluk pasti binasa pada akhirnya. Allah berfirman, “…Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nya-lah segala penentuan, dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan” (QS. Al Qashshash 88).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in"><span>Sebagai ilustrasi, berikut ini betapa sengsaranya orang yang tidak mengimani Allah dan hari akhir. Ketika pasukan Uni Soviet yang komunis akan berangkat perang pada PD II, sebagian di antara mereka melakukan desersi (pemboikotan). Alasannya sangat realistis, “Tidak ada bedanya apakah kami mati sebagai patriot pembela negara atau sebagai pecundang yang sembunyi di kolong ranjang karena kami tak punya Tuhan yang akan membalas perbuatan kami di kehidupan selanjutnya” (Gue Never Die, Salim A. Fillah, Pro-U Media, hlm. 30).<span> </span></span></p>
<p class="MsoListParagraph" style="text-indent: -0.25in"><!--[if !supportLists]--><strong><span><span>4.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span>Status Amalan yang Mubah menjadi amal ibadah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span>Keikhlasan bagaikan eliksir, senyawa kimiawi yang digunakan untuk mengubah suatu unsur menjadi benda berharga. Jadi, jika ikhlas dilekatkan pada berbagai macam –meskipun hanya amalan mubah ataupun amalan keseharian- maka ia akan mengubahnya menjadi amalan ibadah dan sarana mendekatkan diri kepada Allah. Misalnya, Nabi saw. pernah bersabda, “Sungguh tatkala engkau menafkahkan sesuatu dengan niat karena Allah, amalan itu akan ditetapkan bagimu sebagai bentuk ibadah kepadanya meskipun hanya sesuap makanan yang engkau berikan ke mulut istrimu” (HR. Bukhari &amp; Muslim, dari Saad ra).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Di riwayat lain, para shabat Nabi saw. bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah jika salah seorang di antara kami melampiaskan syahwatnya, ia akan mendapatkan pahala?” Beliau menjawab, “Beritahukan kepadaku apa pendapat kalian jika ia menyalurkannya pada tempat yang haram, bukankah ia mendapat dosa? Demikian pula, jika ia menyalurkannya pada tempat yang halal, maka ia pun akan mendapat pahala” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Ahmad).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Rasa capek maupun lapar pun akan berpahala jika demi berjuang fi sabilillah. Allah berfirman, “…yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik, dan mereka tiada menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula) karena Allah akan memberii balasan kepada mereka yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (QS. At Taubah 120-121).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Di hadits lain, Nabi saw. bersabda, “Siapa saja yang mengikat tali kekang kudanya di jalan Allah atas dasar keimanan dan keyakinannya atas janji Allah, maka rasa kenyangnya dan rasa puasnya dari dahaganya di jalan Allah maupun sisa kotoran dan air kencing kuda itu akan menambah berat timbangan amalnya di hari kiamat” (dalam kitab Shahihain, dari Abu Hurairah ra).</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="text-indent: -0.25in"><!--[if !supportLists]--><strong><span><span>5.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span>Memperoleh pahala dari suatu amal kebaikan sekalipun belum dilakukan atau diselesaikan <span> </span></span></strong></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span>Di antara keberkahan yang bersumber dari keikhlasan adalah seorang mukhlis masih mungkin memperoleh pahala yang utuh dari suatu amal meskipun tidak memiliki kemampuan lagi dalam menyelesaikan amalnya itu.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpLast"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Allah swt. berfirman, “Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. An Nisa 100).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Nabi saw. bersabda, “Siapapun yang hendak tidur dan berniat akan bangun di tengah malam untuk shlat tahajud namun ternyata tertidur pulas sampai menjelang subuh, Allah pasti akan menuliskan pahala kebaikan sebagai balasan atas niatnya itu –sebagai bentuk pemberian (shadaqah) yang berasal dari simpati Allah kepada hamba-Nya” (HR. An nasai &amp; Ibnu Majah, dari Abu Darda ra).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Saat perjalanan pulang dari Perang Tabuk, Nabi saw. bersabda, “Di Madinah ada segolongan yang tertinggal. Mereka tidak berada di tengah-tengah kita melewati suatu perkampungan atau lembah –tetapi mereka bersama kita, karena alasan tertentu telah menahan mereka untuk di sini” (HR. Bukhari, dari Anas bin Malik ra). Ada wahyu turun terkait riwayat ini, “…</span><span>dan tiada (pula) berdosa atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberii mereka kendaraan, lalu kamu berkata, ‘Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu.’ lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan” (QS. At Taubah 92).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Di hadits lain, Nabi saw. bersabda, “Barangsiapa sungguh-sungguh memohon mati syahid maka Allah menghantarkannya ke kedudukan orang-orang yang mati syahid sekalipun dia mati di atas kasurnya” (HR. Muslim). Atau hadits qudsi, “Barangsiapa benar-benar meminta (pahala) mati syahid, maka Aku akan memberiinya sekalipun dia tidak benar-benar mati syahid,” (HR. Muslim).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kedua hadits ini memberii penegasan tentang kriteria yang menjadi persyaratan yang harus ada bagi yang menginginkan derajat syahid. Kriteria itu adalah permohonan dengan tulus. Karena tidak semua yang meminta syahid dengan lisannya, benar-benar tulus dari lubuk hati terdalam. Oleh karena itu titik tolak penentu di sini adalah faktor batiniah –hanya Allah yang tahu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Terkadang dalam beramal, orang mukhlis tak sengaja melakukan kesalahan. Maka ketulusan niatnya akan mengoreksi dan menyempurnakan kekurangan itu. Dalam Shahihain, ada kisah seorang yang bershadaqah namun salah sasaran. Laki-laki itu berkata, “Sungguh aku akan mengeluarkan sedekah pada malam ini.” Lalu ia keluar membawa sedekahnya dan jatuh ke tangan seorang wanita pezina. Pada pagi harinya, orang banyak membicarakan, “Tadi malam, seorang wanita pezina mendapatkan sedekah.” Lelaki itu mengucap, “Ya Allah, hanya bagi-Mu segala puji, (sedekahku jatuh pada wanita pezina). Aku akan bersedekah lagi. Dia keluar membawa sedekahnya dan jatuh ke tangan orang kaya.” Pada pagi harinya, orang banyak membicarakan sedekah diberikan kepada orang kaya. Orang itu mengucap, “Ya Allah, hanya bagi-Mu segala puji, (sedekahku jatuh pada orang kaya). Aku akan bersedekah lagi.” </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kemudian ia keluar membawa sedekah dan jatuh ke tangan pencuri. Pada pagi harinya, orang banyak membicarakan sedekah diberikan kepada pencuri. Orang itu mengucap, “Ya Allah, hanya bagi-Mu segala puji, sedekahku ternyata jatuh pada wanita pezina, pada orang kaya dan pada pencuri.” Lalu ia didatangi (malaikat) dan dikatakan kepadanya, “Sedekahmu benar-benar telah diterima. Boleh jadi wanita pezina itu akan menghentikan perbuatan zinanya karena sedekahmu, orang kaya dapat mengambil pelajaran dan mau memberiikan sebagian apa yang telah diberikan Allah kepadanya. Dan mungkin saja si pencuri menghentikan perbuatan mencurinya, karena sedekahmu” (HR. Bukari Muslim).</span></p>
<p class="MsoListParagraph" style="text-indent: -0.25in"><!--[if !supportLists]--><strong><span><span>6.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span>Kemenangan dan Kecukupan dari Allah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span>Salah satu dampak positif dari ikhlas adalah mendapat dukungan dari Allah dan akan dicukupi-Nya sebagaimana firman-Nya, “</span><span>Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya?” (QS. Az Zumar 36).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kualitas keikhlasan dan konsentrasi seseorang kepada Tuhannya menentukan tibanya pertolongan, bantuan, pemenuhan dan perlindungan dari Allah. Sesungguhnya bantuan dari Allah adalah berkaitan dengan adanya kesiapan, yakni bantuan dari Allah berupa dukungan dan pemenangan, maupun bantuan bimbingan dan arahan ke jalan yang lurus , berkaitan dengan kualitas qalbu dalam memfokuskan niat dan kemurnian hati nurani. Dalam hal ini Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberii balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)” (QS. Al Fath 18).</span></p>
<p class="MsoListParagraph" style="text-indent: -0.25in"><!--[if !supportLists]--><strong><span><span>7.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span>Dukungan Naungan Allah di Masa Sulit dan Kritis</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span>Allah akan membantu hamba-Nya yang mukhlis dengan pertolongan-Nya, menjaga hamba itu dengan mata pengawasan Allah yang tak akan pernah terhenti karena mengantuk. Allah tak akan pernah meninggalkan hamba-Nya tatkala ditimpa problematika dan diliputi oleh masa-masa sulit dan malapetaka. Allah akan menjawab doanya dan melepaskan segala kesedihannya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Betapa luar biasa kisah yang diceritakan Al Quran berkaitan dengan kemurahan Allah yang mengabulkan permohonan doa orang musyrik tatkala mereka berlayar dengan kapal mengarungi samudera dan terombang-ambing oleh badai dan gelombang di semua sisi. Pada saat itu mereka berdoa kepada Allah dengan tulus dan penuh keikhlasan sehingga Allah berkenan mengabulkan doa mereka. Meskipun setelah diselamatkan mereka berpaling dan mengubah sikap mereka. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Al-quran menceritakannya, “Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata): &#8220;Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur.&#8221; Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman di muka bumi tanpa (alasan) yang benar…(QS. Yunus 22-23).</span></p>
<p>Dalam sebuah hadits yang panjang juga diceritakan tentang tiga orang yang terjebak dalam gua. Kemudian mereka berdoa dengan secara ikhlas sambil menyebut amal terbaik mereka saat berdoa. A<em><span style="font-style: normal">da tiga orang yang hidup sebelum kalian (sahabat Nabi saw.) berangkat (ke suatu tempat) hingga mereka terpaksa harus menginap di sebuah gua, lalu memasukinya. Tiba-tiba sebuah batu besar runtuh dari arah gunung lantas menutup rongga gua tersebut. Lalu mereka berkata: ’sesungguhnya yang dapat menyelamatkan kalian dari batu besar ini hanyalah dengan (cara) berdoa kepada Allah melalui perbuatan-perbuatan yang shalih’ (maksudnya: mereka memohon kepada Allah dengan menyebutkan perbuatan yang dianggap paling ikhlas di antara yang mereka lakukan-red). Salah seorang diantara mereka berkata:’Ya Allah! aku dulu mempunyai kedua orang tua yang sudah renta dan aku tidak berani memberiikan jatah minum mereka kepada keluargaku (isteri dan anak) dan harta milikku (budak dan pembantuku). </span></em></p>
<p><em><span style="font-style: normal">Pada suatu hari, aku mencari sesuatu di tempat yang jauh dan sepulang dari itu aku mendapatkan keduanya telah tertidur, lantas aku memeras susu seukuran jatah minum keduanya, namun akupun mendapatkan keduanya tengah tertidur. Meskipun begitu, aku tidak berani memberiikan jatah minum mereka tersebut kepada keluargaku (isteri dan anak) dan harta milikku (budak dan pembantuku). Akhirnya, aku tetap menunggu (kapan) keduanya bangun -sementara wadahnya (tempat minuman) masih berada di tanganku- hingga fajar menyingsing. Barulah keduanya pun bangun, lalu meminum jatah untuk mereka. ‘Ya Allah! jika apa yang telah kulakukan tersebut semata-mata mengharap wajah (ridha)Mu, maka renggangkanlah rongga gua ini dari batu besar yang menutup tempat kami berada. Lalu batu tersebut sedikit merenggang namun mereka tidak dapat keluar (karena masih sempit-Red)’ .</span></em></p>
<p><em><span style="font-style: normal">Orang kedua berkata: ‘ya Allah! aku dulu mempunyai sepupu perempuan (anak perempuan paman). Dia termasuk orang yang amat aku kasihi, pernah aku menggodanya untuk berzina denganku tetapi dia menolak ajakanku hingga pada suatu tahun, dia mengalami masa paceklik, lalu mendatangiku dan aku memberiinya 120 dinar dengan syarat dia membiarkan apa yang terjadi antaraku dan dirinya; dia pun setuju hingga ketika aku sudah menaklukkannya, dia berkata: ’tidak halal bagimu memaksaku berbuat seperti ini.’ Aku merasa tidak tega untuk melakukannya. Akhirnya, aku berpaling darinya (tidak mempedulikannya lagi-red) padahal dia adalah orang yang paling aku kasihi. Aku juga, telah membiarkan (tidak mempermasalahkan lagi) uang yang telah kuberikan kepadanya. Ya Allah! jika apa yang telah kulakukan tersebut semata-mata mengharap wajah (ridha)Mu, maka renggangkanlah rongga gua ini dari batu besar yang menutup tempat kami berada. Lalu batu tersebut merenggang lagi namun mereka tetap tidak dapat keluar (karena masih sempit-red)’ .</span></em></p>
<p><em><span style="font-style: normal">Kemudian orang ketigapun berkata: ‘Ya Allah! aku telah mengupah beberapa orang upahan, lalu aku berikan upah mereka, kecuali seorang lagi yang tidak mengambil haknya dan pergi (begitu saja). Kemudian upahnya tersebut, aku investasikan sehingga menghasilkan harta yang banyak. Selang beberapa waktu, dia pun datang sembari berkata: “wahai ‘Abdullah! Berikan upahku!. Aku menjawab: ’onta, sapi, kambing dan budak; semua yang engkau lihat itu adalah upahmu’. Dia berkata: ’wahai ‘Abdullah! jangan mengejekku!’. Aku menjawab: “sungguh, aku tidak mengejekmu’. Lalu dia mengambil semuanya dan memboyongnya sehingga tidak menyisakan sesuatupun. Ya Allah! jika apa yang telah kulakukan tersebut semata-mata mengharap wajah (ridha)Mu, maka renggangkanlah rongga gua ini dari batu besar yang menutup tempat kami berada. Batu besar tersebut merenggang lagi sehingga merekapun dapat keluar untuk melanjutkan perjalanan.’ (</span>Muttafaqun ‘alaih</em><em><span style="font-style: normal">)</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span></span><span></span></p>
<p class="MsoListParagraph"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span></span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpFirst"><span><span> </span></span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpLast"><span><span> </span><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpFirst"><span> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span><span> </span><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span><span> </span></span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpLast"><span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in"><span> </span></p>
<div style="width: 1px;height: 1px;overflow: hidden"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--><!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 415 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-520092929 1073786111 9 0 415 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} p 	{mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0in; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoListParagraph, li.MsoListParagraph, div.MsoListParagraph 	{mso-style-priority:34; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:.5in; 	mso-add-space:auto; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} p.MsoListParagraphCxSpFirst, li.MsoListParagraphCxSpFirst, div.MsoListParagraphCxSpFirst 	{mso-style-priority:34; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:0in; 	margin-left:.5in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} p.MsoListParagraphCxSpMiddle, li.MsoListParagraphCxSpMiddle, div.MsoListParagraphCxSpMiddle 	{mso-style-priority:34; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:0in; 	margin-left:.5in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} p.MsoListParagraphCxSpLast, li.MsoListParagraphCxSpLast, div.MsoListParagraphCxSpLast 	{mso-style-priority:34; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:.5in; 	mso-add-space:auto; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:459619061; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-929416332 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 	{mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-.25in;} ol 	{margin-bottom:0in;} ul 	{margin-bottom:0in;} --><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:&quot;Table Normal&quot;; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:&quot;&quot;; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0in; 	mso-para-margin-right:0in; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:&quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&quot;; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} --> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><span>Buah-buah Keikhlasan </span></p>
<p class="MsoListParagraph" style="text-indent: -0.25in"><!--[if !supportLists]--><strong><span><span>1.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span>Kedamaian jiwa</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in"><span>Ikhlas memberi ketenangan batin sekaligus ketentraman dalam qalbu, bisa juga menyebabkan seseorang berlapang dada. Di dalam keikhlasan qalbu seutuhnya mengejar satu tujuan: keridhaan Allah. Segala dambaan difokuskan untuk satu tujuan. Inilah jalan spiritual yang dapat mengantarkan menuju keridhaan Allah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in"><span>Tak dapat disangkal bahwa tujuan yang sudah jelas dan konsitensi jalan spiritual yang mereka tempuh itu memiliki kekuatan yang membimbing kepada ketenangan spiritual, dari berbgai ujian berat dan kegalauan jiwa di tengah berbagai orientasi, konflik di tengah interes dan berbagai jalan hidup.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in"><span>Allah memberi menrenagkan bahwa seorang mukmin yang menyembah satu Tuhan saja diumpamakan seperti budak yang memeiliki satu pemilik (majikan) saja sehingga membuatnya lebih mengenal apa saja yang membuat majikannya senang dan kapan sesuatu membuat sang majikan tidak suka. Dengan begitu ia hanya menjadikan upaya untuk memuaskan tuannya dan mengerjakan apa yang tuannya sukai sebagai satu-satunya tujuan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in"><span>Pada sisi lain, Allah mengumpamakan seorang musyrik dengan gambaran seorang budak yang memiliki majikan lebih dari satu yang punya temperamen dan keinginan yang tak sama. Masing-masing majikan memberi perintah yang saling berlawanan dan menuntut permintaan yang juga saling berlawanan. Masing-masing memiliki tujuan sendiri-sendiri dan qalbu-qalbu mereka terpecah belah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in"><span>Allah berfirman, “Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); Adakah kedua budak itu sama halnya? Segala puji bagi Allah tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui” (QS. Az Zumar 39).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in"><span>Arti kata salaman dalam ayat di atas: seseorang (budak) yang murni (khalishan) dimiliki seorang tuan, bukan dimiliki oleh beberapa orang yang berlainan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in"><span>Dengan kemurnian ibadahnya kepada Allah semata, orang mukmin terbebas dari kesengsaraan penyembahan kepada selain-Nya. Maka dikatakan dalam hadits, “Kesengsaraan hamba dinar, hamba dirham dan hamba uang.” Sedangkan orang mukmin hatinya tenang &amp; berbahagia karena hidup dan ibadahnya hanya kepada Allah semata (dalam Niat &amp; Ikhlas [terjemahan], Yusuf Qardhawi, Al Kautsar &amp; Risalah Gusti, bab Buah Keikhlasan) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in"><span>Segala hasratnya terhimpun dalam satu wadah: keridhaan Allah. Orang ikhlas menjadikan niat dan tujuannya di dunia ini hanya untuk (bekal) di akhirat. Sehingga dia tidak menanggapi –atau bahkan menganggap remeh- apapun yang dijanjikan kehidupan duniawi untuknya.<span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in"><span>Rasulullah Muhammad saw. pernah bersabda, “Siapa saja yang menjadikan kehidupan dunia sebagai dambaannya, Allah akan menjauhkannya dari tujuannya itu dan menjadikan kehidupannya dalam kekurangan. Kehidupan dunia tidak akan diperolehnya kecuali yang hanya telah ditetapkan baginya. Sebaliknya, siapa saja yang menjadikan akhirat sebagai niat yang melatarbelakanginya, maka Allah akan memenuhi semua urusannya dan juga menjadikan kecukupan di dalam hatinya dan dunia menghampirinya dan dunia itu adalah sesuatu yang hina (di matanya)” (HR. Ibnu Majah, dalam Az Zawa’id no. 4105). </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="text-indent: -0.25in"><!--[if !supportLists]--><strong><span><span>2.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span>Kekuatan Spiritual</span></strong></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span>Keikhlasan member pelakunya kekuatan spiritual yang luar biasa. Itu karena ia mendapat sandaran dari cita-cita yang luhur yang ingin ia raih dengan jiwa yang diiringi dengan keikhlasan dan dengan mengesampingkan keinginan-keinginan yang lain. </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span>Seseorang yang memeiliki kesarakahan dalam meraih kekayaan materi, kedudukan, gelar, dan kepemimpinan seseungguhnya adalah orang yang lemah. Ketika disadarkan untuk mewujudkan ambisinya terhadap dunia itu, dia akan merasakan kelemahannya di hadapan orang-orang yang berjasa memenuhi segala keinginannya itu. Dia akan merasa lemah tatkala jiwanya diliputi perasaan takut kehilangan sumber kekayaan atau kedudukan duniawinya. </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span>Berbeda dengan orang yang mencurahkan jiwanya untuk Allah, dia akan mendapatkan transfer kekuatan yang tak akan lekas mengendur. Oleh karena itulah, dalam upayanya memurnikan ikhlas, seseorang akan memiliki kekuatan yang bahkan melebihi kekuatan yang bersifat fisik. </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span>Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam Al Ghazali menuturkan sebuah kisah yang penuh dengan simbolisme kekuatan spiritual. Alkisah, ada seorang abid (ahli ibadah) yang mendengar yang disembah banyak orang. Dengan membawa kapak, dia bergegas menuju pohon dan berniat menebang phon tersebut. Dia bertekad untuk memutus fitnah penyembahan (syirik) dan penyakralan pohon itu. </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span>Di tengah perjalanan, iblis (yang menjelma) menghadang dan merayunya utnuk mengurungkan niatnya. Maka terjadilah perkelahian. Sang abid memenangkan pergulatannya. Di tangannya, sang iblis tidak lebih bagaikan seringan bulu. Lalu iblis melancarkan bujukan yang menipu. Iblis meminta sang abid agar pulang dan membiarkan pohon itu. Karena dengan memotongnya tidak aka nada gunanya dan dia tak akan sanggup menghalangi orang-orang untuk menyembah pohon-pohon yang lain. </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span>Iblis akan berjanji untuk memberi satu dinar kepada sang abid setiap hari yang akan dapat ia ambil dari bawah bantalnya. Dengan begitu ia dapat menyantuni fakir miskin. Begitulah iblis berusaha merayu hati sang abid agar menerima tawarannya itu. Iblis lalu menyerahkan uang dinar sebagai pembayaran pertama. Selanjutnya, dia menerima dinar setiap hari dari bawah bantalnya sebagai hasil kesepakatan antara mereka berdua. </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span>Hingga suatu hari sang abid dikejutkan oleh tidak datangnya kiriman dinar dari iblis seperti hari-hari sebelumnya. Sang abid masih bersabar untuk beberapa hari, mudah-mudahan temannya itu akan melunasi pemberian dinar per hari yang tertinggal. Setelah ditunggu-tunggu, tidak terjadi apa-apa.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span>Tanpa pikir panjang, tidak ada jalan lain bagi sang abid untuk mengambil kapaknya dan pergi menebang pohon itu. Akan tetapi iblis menghadang di tengah jalan dan terjadi pertarungan. Kali ini iblis mampu mengalahkan sang abid dengan mudah ibarat melawan seekor burung pipit. </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span>Dengan penuh keheranan, sang abid bertanya kepada iblis tentang rahasia di balik kemenangan itu. Iblis berkata, “Kemarahanmu pada (pertarungan) yang pertama adalah karena murni karena Allah. Oleh sebab itu, engkau memiliki kekuatan hebat yang tiada daya dan upaya bagiku untuk menandinginnya. Maka aku dengan mudah kalah di hadapanmu. Berbeda dengan sekarang, kemarahanmu adalah karena terhentinya kiriman uang dinar. Sehingga kekuatan yang luar biasa itu tak ada lagi padamu dan engkau dapat aku taklukkan secepat kilat.”</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span>Kekuatan spiritual ini juga menemukan pembenarannya saat perang pertama dalam masa kerasulan Nabi Muhammad saw. Saat perang Badar, dengan izin Allah kaum muslimin yang hanya 300an orang mampu menandingi dan bahkan memporakporandakan pasukan musyrik yang berjumlah 3 kali lipatnya. </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span>Ini sudah menjadi janji Allah untuk memberi kekuatan yang luar biasa bagi orang yang ikhlas. Allah berfirman, “Wahai Nabi, kabarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan seribu orang kafir, karena orang-orang kafir itu adalah kaum yang tidak mengerti” (QS. Al Anfal 65). </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span>Juga pada kisah Thalut. Dalam Al Quran Allah menceritakan, “Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: &#8220;Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku&#8221;. Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: &#8220;Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya&#8221;. Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: &#8220;Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar&#8221; (QS. Al Baqarah 249).</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span>Sejarah perjuangan bangsa Indonesia juga mengalami hal yang sama. Dengan kekuatan persenjataan yang minim, namun berbekal semangat juang yang tinggi dan rasa percaya pada kebesaran Allah, maka pasukan penjajah dibuat kewalahan oleh para lascar mujahidin negeri ini. Dengan pekik Allahu Akbar dan hanya dengan senjata seadanya, musuh dibuat kerepotan. </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span>Namun sebaliknya, meski berjumlah lebih banyak dari musuh namun dengan sikap sombong atau angkuh, tentu jumlah itu tidak punya kekuatan apa-apa. Ini terbukti saat perang Hunain yang saat itu Nabi saw. sempat berduel dengan musuh tatkala kaum muslimin tampak kocar-kacir. Allah menggambarkan suasana saat itu, “Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai” (QS. At Taubah 25).</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-indent: -0.25in"><!--[if !supportLists]--><strong><span><span>3.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span>Istiqamah dalam beramal</span></strong></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span>Sikap ikhlas akan mendorong pelakunya untuk beramal secara kontinyu. Sesungguhnya seseorang yang melakukan sesuatu demi manusia atau demi hasrat konsumtif dan seksualnya, bisa saja dia akan berhenti saat tidak menemukan sesuatu yang dapat memuasakan dorongan hasratnya itu. Seseorang yang berbuat sesuatu dengan harapan untuk memperoleh popularitas dan kedudukan, dia bisa saja akan menunda-nunda dan merasa berat hatinya saat mengetahui tujuan yang didambanya jauh dari kenyataan. </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span>Begitu pula seseorang yang melaksanakan sesuatu karena atasannya atau penguasa, bisa saja ia akan segera menghentikan pekerjaannya itu saat sang pimpinan meninggal dunia atau diturunkan dari jabatannya.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpLast"><span>Sebaliknya, seseorang yang berbuat demi Allah, dia tidak akan berhenti, tergoda atau menunda-nundanya. Karena orang yang beramal karena Allah tidak akan merasa sendirian dan ditinggalkan. Allah akan tetap selalu hadir manakala manusia tidak akan selalu ada dan makhluk pasti binasa pada akhirnya. Allah berfirman, “…Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nya-lah segala penentuan, dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan” (QS. Al Qashshash 88).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in"><span>Sebagai ilustrasi, berikut ini betapa sengsaranya orang yang tidak mengimani Allah dan hari akhir. Ketika pasukan Uni Soviet yang komunis akan berangkat perang pada PD II, sebagian di antara mereka melakukan desersi (pemboikotan). Alasannya sangat realistis, “Tidak ada bedanya apakah kami mati sebagai patriot pembela negara atau sebagai pecundang yang sembunyi di kolong ranjang karena kami tak punya Tuhan yang akan membalas perbuatan kami di kehidupan selanjutnya” (Gue Never Die, Salim A. Fillah, Pro-U Media, hlm. 30).<span> </span></span></p>
<p class="MsoListParagraph" style="text-indent: -0.25in"><!--[if !supportLists]--><strong><span><span>4.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span>Status Amalan yang Mubah menjadi amal ibadah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span>Keikhlasan bagaikan eliksir, senyawa kimiawi yang digunakan untuk mengubah suatu unsur menjadi benda berharga. Jadi, jika ikhlas dilekatkan pada berbagai macam –meskipun hanya amalan mubah ataupun amalan keseharian- maka ia akan mengubahnya menjadi amalan ibadah dan sarana mendekatkan diri kepada Allah. Misalnya, Nabi saw. pernah bersabda, “Sungguh tatkala engkau menafkahkan sesuatu dengan niat karena Allah, amalan itu akan ditetapkan bagimu sebagai bentuk ibadah kepadanya meskipun hanya sesuap makanan yang engkau berikan ke mulut istrimu” (HR. Bukhari &amp; Muslim, dari Saad ra).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Di riwayat lain, para shabat Nabi saw. bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah jika salah seorang di antara kami melampiaskan syahwatnya, ia akan mendapatkan pahala?” Beliau menjawab, “Beritahukan kepadaku apa pendapat kalian jika ia menyalurkannya pada tempat yang haram, bukankah ia mendapat dosa? Demikian pula, jika ia menyalurkannya pada tempat yang halal, maka ia pun akan mendapat pahala” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Ahmad).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Rasa capek maupun lapar pun akan berpahala jika demi berjuang fi sabilillah. Allah berfirman, “…yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik, dan mereka tiada menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula) karena Allah akan memberi balasan kepada mereka yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (QS. At Taubah 120-121).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Di hadits lain, Nabi saw. bersabda, “Siapa saja yang mengikat tali kekang kudanya di jalan Allah atas dasar keimanan dan keyakinannya atas janji Allah, maka rasa kenyangnya dan rasa puasnya dari dahaganya di jalan Allah maupun sisa kotoran dan air kencing kuda itu akan menambah berat timbangan amalnya di hari kiamat” (dalam kitab Shahihain, dari Abu Hurairah ra).</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="text-indent: -0.25in"><!--[if !supportLists]--><strong><span><span>5.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span>Memperoleh pahala dari suatu amal kebaikan sekalipun belum dilakukan atau diselesaikan <span> </span></span></strong></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span>Di antara keberkahan yang bersumber dari keikhlasan adalah seorang mukhlis masih mungkin memperoleh pahala yang utuh dari suatu amal meskipun tidak memiliki kemampuan lagi dalam menyelesaikan amalnya itu.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpLast"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Allah swt. berfirman, “Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. An Nisa 100).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Nabi saw. bersabda, “Siapapun yang hendak tidur dan berniat akan bangun di tengah malam untuk shlat tahajud namun ternyata tertidur pulas sampai menjelang subuh, Allah pasti akan menuliskan pahala kebaikan sebagai balasan atas niatnya itu –sebagai bentuk pemberian (shadaqah) yang berasal dari simpati Allah kepada hamba-Nya” (HR. An nasai &amp; Ibnu Majah, dari Abu Darda ra).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Saat perjalanan pulang dari Perang Tabuk, Nabi saw. bersabda, “Di Madinah ada segolongan yang tertinggal. Mereka tidak berada di tengah-tengah kita melewati suatu perkampungan atau lembah –tetapi mereka bersama kita, karena alasan tertentu telah menahan mereka untuk di sini” (HR. Bukhari, dari Anas bin Malik ra). Ada wahyu turun terkait riwayat ini, “…</span><span>dan tiada (pula) berdosa atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata, ‘Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu.’ lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan” (QS. At Taubah 92).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Di hadits lain, Nabi saw. bersabda, “Barangsiapa sungguh-sungguh memohon mati syahid maka Allah menghantarkannya ke kedudukan orang-orang yang mati syahid sekalipun dia mati di atas kasurnya” (HR. Muslim). Atau hadits qudsi, “Barangsiapa benar-benar meminta (pahala) mati syahid, maka Aku akan memberinya sekalipun dia tidak benar-benar mati syahid,” (HR. Muslim).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kedua hadits ini memberi penegasan tentang kriteria yang menjadi persyaratan yang harus ada bagi yang menginginkan derajat syahid. Kriteria itu adalah permohonan dengan tulus. Karena tidak semua yang meminta syahid dengan lisannya, benar-benar tulus dari lubuk hati terdalam. Oleh karena itu titik tolak penentu di sini adalah faktor batiniah –hanya Allah yang tahu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Terkadang dalam beramal, orang mukhlis tak sengaja melakukan kesalahan. Maka ketulusan niatnya akan mengoreksi dan menyempurnakan kekurangan itu. Dalam Shahihain, ada kisah seorang yang bershadaqah namun salah sasaran. Laki-laki itu berkata, “Sungguh aku akan mengeluarkan sedekah pada malam ini.” Lalu ia keluar membawa sedekahnya dan jatuh ke tangan seorang wanita pezina. Pada pagi harinya, orang banyak membicarakan, “Tadi malam, seorang wanita pezina mendapatkan sedekah.” Lelaki itu mengucap, “Ya Allah, hanya bagi-Mu segala puji, (sedekahku jatuh pada wanita pezina). Aku akan bersedekah lagi. Dia keluar membawa sedekahnya dan jatuh ke tangan orang kaya.” Pada pagi harinya, orang banyak membicarakan sedekah diberikan kepada orang kaya. Orang itu mengucap, “Ya Allah, hanya bagi-Mu segala puji, (sedekahku jatuh pada orang kaya). Aku akan bersedekah lagi.” </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kemudian ia keluar membawa sedekah dan jatuh ke tangan pencuri. Pada pagi harinya, orang banyak membicarakan sedekah diberikan kepada pencuri. Orang itu mengucap, “Ya Allah, hanya bagi-Mu segala puji, sedekahku ternyata jatuh pada wanita pezina, pada orang kaya dan pada pencuri.” Lalu ia didatangi (malaikat) dan dikatakan kepadanya, “Sedekahmu benar-benar telah diterima. Boleh jadi wanita pezina itu akan menghentikan perbuatan zinanya karena sedekahmu, orang kaya dapat mengambil pelajaran dan mau memberikan sebagian apa yang telah diberikan Allah kepadanya. Dan mungkin saja si pencuri menghentikan perbuatan mencurinya, karena sedekahmu” (HR. Bukari Muslim).</span></p>
<p class="MsoListParagraph" style="text-indent: -0.25in"><!--[if !supportLists]--><strong><span><span>6.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span>Kemenangan dan Kecukupan dari Allah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span>Salah satu dampak positif dari ikhlas adalah mendapat dukungan dari Allah dan akan dicukupi-Nya sebagaimana firman-Nya, “</span><span>Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya?” (QS. Az Zumar 36).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kualitas keikhlasan dan konsentrasi seseorang kepada Tuhannya menentukan tibanya pertolongan, bantuan, pemenuhan dan perlindungan dari Allah. Sesungguhnya bantuan dari Allah adalah berkaitan dengan adanya kesiapan, yakni bantuan dari Allah berupa dukungan dan pemenangan, maupun bantuan bimbingan dan arahan ke jalan yang lurus , berkaitan dengan kualitas qalbu dalam memfokuskan niat dan kemurnian hati nurani. Dalam hal ini Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)” (QS. Al Fath 18).</span></p>
<p class="MsoListParagraph" style="text-indent: -0.25in"><!--[if !supportLists]--><span><span>7.<span> </span></span></span><!--[endif]--><span>Dukungan Naungan Allah di Masa Sulit dan Kritis</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Allah akan membantu hamba-Nya yang mukhlis dengan pertolongan-Nya, menjaga hamba itu dengan mata pengawasan Allah yang tak akan pernah terhenti karena mengantuk. Allah tak akan pernah meninggalkan hamba-Nya tatkala ditimpa problematika dan diliputi oleh masa-masa sulit dan malapetaka. Allah akan menjawab doanya dan melepaskan segala kesedihannya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Betapa luar biasa kisah yang diceritakan Al Quran berkaitan dengan kemurahan Allah yang mengabulkan permohonan doa orang musyrik tatkala mereka berlayar dengan kapal mengarungi samudera dan terombang-ambing oleh badai dan gelombang di semua sisi. Pada saat itu mereka berdoa kepada Allah dengan tulus dan penuh keikhlasan sehingga Allah berkenan mengabulkan doa mereka. Meskipun setelah diselamatkan mereka berpaling dan mengubah sikap mereka. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Al-quran menceritakannya, “Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata): &#8220;Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur.&#8221; Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman di muka bumi tanpa (alasan) yang benar…(QS. Yunus 22-23).</span></p>
<p>Dalam sebuah hadits yang panjang juga diceritakan tentang tiga orang yang terjebak dalam gua. Kemudian mereka berdoa dengan secara ikhlas sambil menyebut amal terbaik mereka saat berdoa. A<em><span style="font-style: normal">da tiga orang yang hidup sebelum kalian (sahabat Nabi saw.) berangkat (ke suatu tempat) hingga mereka terpaksa harus menginap di sebuah gua, lalu memasukinya. Tiba-tiba sebuah batu besar runtuh dari arah gunung lantas menutup rongga gua tersebut. Lalu mereka berkata: ’sesungguhnya yang dapat menyelamatkan kalian dari batu besar ini hanyalah dengan (cara) berdoa kepada Allah melalui perbuatan-perbuatan yang shalih’ (maksudnya: mereka memohon kepada Allah dengan menyebutkan perbuatan yang dianggap paling ikhlas di antara yang mereka lakukan-red). Salah seorang diantara mereka berkata:’Ya Allah! aku dulu mempunyai kedua orang tua yang sudah renta dan aku tidak berani memberikan jatah minum mereka kepada keluargaku (isteri dan anak) dan harta milikku (budak dan pembantuku). </span></em></p>
<p><em><span style="font-style: normal">Pada suatu hari, aku mencari sesuatu di tempat yang jauh dan sepulang dari itu aku mendapatkan keduanya telah tertidur, lantas aku memeras susu seukuran jatah minum keduanya, namun akupun mendapatkan keduanya tengah tertidur. Meskipun begitu, aku tidak berani memberikan jatah minum mereka tersebut kepada keluargaku (isteri dan anak) dan harta milikku (budak dan pembantuku). Akhirnya, aku tetap menunggu (kapan) keduanya bangun -sementara wadahnya (tempat minuman) masih berada di tanganku- hingga fajar menyingsing. Barulah keduanya pun bangun, lalu meminum jatah untuk mereka. ‘Ya Allah! jika apa yang telah kulakukan tersebut semata-mata mengharap wajah (ridha)Mu, maka renggangkanlah rongga gua ini dari batu besar yang menutup tempat kami berada. Lalu batu tersebut sedikit merenggang namun mereka tidak dapat keluar (karena masih sempit-Red)’ .</span></em></p>
<p><em><span style="font-style: normal">Orang kedua berkata: ‘ya Allah! aku dulu mempunyai sepupu perempuan (anak perempuan paman). Dia termasuk orang yang amat aku kasihi, pernah aku menggodanya untuk berzina denganku tetapi dia menolak ajakanku hingga pada suatu tahun, dia mengalami masa paceklik, lalu mendatangiku dan aku memberinya 120 dinar dengan syarat dia membiarkan apa yang terjadi antaraku dan dirinya; dia pun setuju hingga ketika aku sudah menaklukkannya, dia berkata: ’tidak halal bagimu memaksaku berbuat seperti ini.’ Aku merasa tidak tega untuk melakukannya. Akhirnya, aku berpaling darinya (tidak mempedulikannya lagi-red) padahal dia adalah orang yang paling aku kasihi. Aku juga, telah membiarkan (tidak mempermasalahkan lagi) uang yang telah kuberikan kepadanya. Ya Allah! jika apa yang telah kulakukan tersebut semata-mata mengharap wajah (ridha)Mu, maka renggangkanlah rongga gua ini dari batu besar yang menutup tempat kami berada. Lalu batu tersebut merenggang lagi namun mereka tetap tidak dapat keluar (karena masih sempit-red)’ .</span></em></p>
<p><em><span style="font-style: normal">Kemudian orang ketigapun berkata: ‘Ya Allah! aku telah mengupah beberapa orang upahan, lalu aku berikan upah mereka, kecuali seorang lagi yang tidak mengambil haknya dan pergi (begitu saja). Kemudian upahnya tersebut, aku investasikan sehingga menghasilkan harta yang banyak. Selang beberapa waktu, dia pun datang sembari berkata: “wahai ‘Abdullah! Berikan upahku!. Aku menjawab: ’onta, sapi, kambing dan budak; semua yang engkau lihat itu adalah upahmu’. Dia berkata: ’wahai ‘Abdullah! jangan mengejekku!’. Aku menjawab: “sungguh, aku tidak mengejekmu’. Lalu dia mengambil semuanya dan memboyongnya sehingga tidak menyisakan sesuatupun. Ya Allah! jika apa yang telah kulakukan tersebut semata-mata mengharap wajah (ridha)Mu, maka renggangkanlah rongga gua ini dari batu besar yang menutup tempat kami berada. Batu besar tersebut merenggang lagi sehingga merekapun dapat keluar untuk melanjutkan perjalanan.’ (</span>Muttafaqun ‘alaih</em><em><span style="font-style: normal">)</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span></span><span></span></p>
<p class="MsoListParagraph"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span></span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpFirst"><span><span> </span></span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpLast"><span><span> </span><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpFirst"><span> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span><span> </span><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span><span> </span></span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpLast"><span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in"><span> </span></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ydsf.org/v2b/buah-buah-keikhlasan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memahami Hakikat Waktu Imsak*</title>
		<link>http://www.ydsf.org/v2b/memahami-hakikat-waktu-imsak</link>
		<comments>http://www.ydsf.org/v2b/memahami-hakikat-waktu-imsak#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Aug 2010 03:39:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Oki Aryono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Untaian Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[imsak puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ydsf.org/?p=349</guid>
		<description><![CDATA[Bagi siapa saja yang terlambat bangun untuk santap sahur, walaupun ia sudah mendengar bacaan tarhim, maka tidak ada halangan baginya untuk tetap bersantap sahur sampai datangnya waktu imsak yang sebenarnya, yakni azan Subuh.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p>Bagi siapa saja yang terlambat bangun untuk santap sahur, walaupun ia sudah mendengar bacaan tarhim, maka tidak ada halangan baginya untuk tetap bersantap sahur sampai datangnya waktu imsak yang sebenarnya, yakni azan Subuh.<span id="more-349"></span></p>
<p>Imsak secara etimologi berasal dari <em>amsaka-yumsiku-imsak</em> yang berarti menahan, menangkap dan memegang. Terkait dengan puasa, imsak merupakan “batas waktu” orang berpuasa mulai menahan diri dari makan, minum dan hal-hal lain yang dapat membatalkan puasa.</p>
<p>Berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits, hakikat imsak adalah datangnya waktu Subuh. Sebagaimana firman-Nya, “Makanlah dan minumlah sampai jelas bagi kamu perbedaan benang putih dari benang hitam, yaitu Fajar. (QS. al Baqarah: 187).</p>
<p>Fajar dalam ayat ini dapat dimaksudkan <em>fajar kadzib</em> (yaitu tanda putih di tepi langit sebelah Timur, tetapi terbitnya membujur vertikal sebelum datangnya <em>fajar shadiq</em> selagi masih ada malam). Namun juga dapat dimaksudkan <em>fajar shadiq</em> (yaitu tanda putih melintang di tepi langit sebelah Timur membujur horizontal yang mengiringi habisnya malam hari. Memasuki waktu Subuh.</p>
<p>Dengan pertimbangan hadits-hadits berikut ini mempertajam makna bahwa “fajar” yang dimaksud adalah “<em>fajar shadiq</em>”. Seperti hadits yang diriwayatkan beberapa sahabat berikut ini: <strong>Pertama</strong>, hadits Abu Hurairah, Nabi saw, bersabda: Apabila seorang di antara kalian mendengar suara azan Subuh sedangkan gelas ada di tangannya, maka janganlah ia meletakkannya sampai ia menyelesaikan hajatnya (meminumnya). (HR. Abu Daud).</p>
<p><strong>Kedua</strong>, hadits Samurah ibn Jundub, Nabi saw, bersabda: Jangan sampai menghentikan makan sahur kalian lantaran azannya Bilal atau fajar putih yang memanjang vertikal (<em>fajar kadzib</em>) sampai datangnya fajar memanjang horizontal (<em>fajar shadiq</em>). (HR. Muslim). Ketiga, hadits Ibn Abbas, Nabi bersabda: Fajar itu ada dua, fajar tidak boleh makan (sahur) tetapi boleh shalat (Subuh), dan fajar tidak boleh shalat (Subuh) namun boleh makan (sahur). (HR. Ibn Khuzaimah).</p>
<p><strong>Keempat</strong>, hadits Abu Umamah berkata: Shalat Subuh telah diiqamati sementara itu gelas sudah ada di tangan Umar. Ia (Umar) bertanya: Apakah boleh saya meminumnya wahai Nabi? Nabi saw, menjawab: Silakan. Maka Umar meminum air itu. (HR. Ibn Jarir).</p>
<p><strong>Kelima</strong>, hadits Hibban ibn Harits berkata: Kami makan sahur bersama Ali ibn Abi Thalib. Setelah selesai ia (Ali ibn Abi Thalib) menyuruh juru azan mengumandangkan azan, kemudian ia melaksanakan shalat Subuh. (HR. Thahawi dalam Syarkh al Ma’ani).</p>
<p>Tawaran yang disampaikan bahwa imsak adalah sepuluh menit sebelum azan Subuh didasari hadits Anas ibn Malik berkata: Nabi saw, dan Zaid ibn Tsabit sedang makan sahur. Setelah selesai, Nabi saw, melaksanakan shalat. Kami (perawi) bertanya kepada Anas: Berapa masa jedah antara makan sahur dan masuknya waktu shalat (Subuh)? Anas menjawab: Sekitar seseorang membaca lima puluh ayat Al Qur’an (HR. Bukhari), tentunya tidak dipahami waktu imsak yang sebenarnya, melainkan etika waktu makan sahur yang ideal, agar makan sahur dapat dinikmati tanpa tergesa-gesa, mestinya ada masa jeda antara makan sahur dengan azan Subuh.</p>
<p>Namun, bagi siapa saja yang terlambat bangun untuk santap sahur, walaupun ia sudah mendengar bacaan <em>tarhim</em>, maka tidak ada halangan baginya untuk tetap bersantap sahur sampai datangnya waktu imsak yang sebenarnya, yakni azan Subuh. <em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<p><strong><em>*Ditulis oleh Dr. H. Zainuddin MZ, Lc. MA</em></strong><strong> (anggota Dewan Syariah  YDSF Surabaya)</strong></p>
<div id="attachment_354" class="wp-caption alignleft" style="width: 165px"><strong><strong><img class="size-medium wp-image-354  " src="http://www.ydsf.org/va/wp-content/uploads/2010/08/26-meja-belajar-259x300.jpg" alt="" width="155" height="180" /></strong></strong><p class="wp-caption-text">Dr. H. Zainuddin MZ, Lc. MA</p></div>
<p><strong> </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ydsf.org/v2b/memahami-hakikat-waktu-imsak/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menahan Diri Dari Keburukan adalah Sedekah</title>
		<link>http://www.ydsf.org/v2b/menahan-diri-dari-keburukan-adalah-sedekah</link>
		<comments>http://www.ydsf.org/v2b/menahan-diri-dari-keburukan-adalah-sedekah#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Aug 2010 04:39:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Oki Aryono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Untaian Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[menahan diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ydsf.org/?p=342</guid>
		<description><![CDATA[<p>Menahan diri dari perbuatan jahat terhadap orang lain, betapapun merupakan sesuatu yang terkesan pasif dan bukan suatu tindakan aktif, memiliki pahala dan keutamaan yang besar sehingga mampu mengantarkan pelakunya kedalam surga.</p>
<p><span id="more-342"></span></p>
<p>Ditanyakan: “Bagaimana pendapat engkau jika ia seorang yang&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menahan diri dari perbuatan jahat terhadap orang lain, betapapun merupakan sesuatu yang terkesan pasif dan bukan suatu tindakan aktif, memiliki pahala dan keutamaan yang besar sehingga mampu mengantarkan pelakunya kedalam surga.</p>
<p><span id="more-342"></span></p>
<p>Ditanyakan: “Bagaimana pendapat engkau jika ia seorang yang lemah dan tidak mampu menolong orang yang terzalimi?” Beliau bersabda, “Kamu tidak ingin meninggalkan sedikitpun kebaikan pada diri temanmu. Hendaknya ia menahan diri dari tindakan jahat terhadap orang lain.”</p>
<p>Menahan diri agar tidak mengganggu orang lain jelas lebih ringan dari bersedekah susu karena sama sekali tidak membutuhkan dana atau tenaga sedikitpun. Kendati ringan, amalan ini dapat mengantarkan pelakunya kedalam surga karena setelah menjelaskan tentang amalan ini Rasul SAW. Menegaskan, “Tidak ada seorang Muslim yang melakukan suatu amalan dari amalan-amalan diatas, melainkan amalan itu akan membimbing tangannya sampai berhasil memasukkannya kedalam surga”<br />
(H.r. Thabrani, Ibnu Hibban dan al-Hakim).</p>
<p>Menahan diri dari perbuatan jahat terhadap orang lain, betapapun merupakan sesuatu yang terkesan pasif dan bukan suatu tindakan aktif, memiliki pahala dan keutamaan yang besar sehingga mampu mengantarkan pelakunya kedalam surga. Diantara keutamaannya adalah sebagai berikut:</p>
<p>Pertama, menahan diri dari tindakan mengganggu orang lain adalah bentuk keislaman yang paling utama, sehingga wajar dapat mengantarkan pelakunya kedalam surga. Rasul SAW bersabda:</p>
<p>“Islam yang paling utama adalah apabila kaum Muslimin merasa selamat dari gangguan lisan dan tanganmu” (H.r. Ahmad, Thabrani dan Ibnu Hibban).</p>
<p>Kedua, menahan diri dari tindakan mengganggu orang lain adalah sedekah untuk diri sendiri, sedangkan sedekah pahalanya adalah surga. Rasul SAW bersabda:</p>
<p>“Hendaknya kamu menahan diri dari tindak kejahatan, karena sesungguhnya hal itu adalah sedekah yang kamu sedekahkan pada dirmu sendiri” (H.r. Ahmad).</p>
<p>Ketiga, suka mengganggu orang lain, terutama para tetangga adalah tindakan yang mengantarkan pelakunya kedalam neraka. Ini berarti menahan diri untuk tidak mengganggu orang lain dapat mengantarkan pelakunya kedalam surga. Rasul SAW bersabda:</p>
<p>“Tidak akan masuk surga orang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatannya” (H.r. Muslim).</p>
<p>Menahan diri dari tindakan jahat terhadap orang lain memiliki banyak bentuk:</p>
<p>Menahan tangan agar jangan sampai menyakiti orang lain. Rasul SAW bersabda:</p>
<p>“Seorang Muslim adalah orang yang apabila kaum Muslimin merasa selamat dari gangguan lisan dan tangannya” (H.r. Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Tindak kejahatan dengan tangan ini sering kali disebabkan oleh dua hal.</p>
<p>a.	Dorongan amarah sehingga ia melampiaskannya dengan melakukan pukulan. Rasul SAW bersabda:</p>
<p>“Janganlah kamu memukul hamba-hamba wanita Allah. Sungguh telah banyak kaum wanita yang mendatangi keluarga Muhammad SAW untuk mengadukan para suami mereka. Sungguh orang-orang (yang memukul para istri) bukanlah orang-orang yang terbaik diantara kalian” (H.r. ad-Darimi).</p>
<p>b.	Dorongan syahwat sehingga ia melampiaskannya dengan melakukan sentuhan syahwati terhadap wanita atau lelaki yang tidak halal baginya. Ibnu Abbas r.a. menuturkan:</p>
<p>Ada seorang lelaki berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mempunyai seorang istri yang tidak menolak ketika disentuh oleh lelaki yang menyentuhnya.” Beliau bersabda, “Ceraikanlah ia.” Ia menjawab, “Aku tidak bisa menahan diri untuk bermesraan dengannya.” Beliau bersabda, “kalau begitu pertahankanlah (tidak dicerai) ia” (H.r. an-Nasa’i).</p>
<p>Sentuhan ini merupakan tindakan yang haram dan harus dihindarkan. Rasul SAW bersabda:</p>
<p>“Seandainya salah seorang diantara kamu ditusuk palanyadengan jarum dari besi, niscaya hal itu lebih baik baginya dari pada menyentuh wanita yang tidak halal baginya” (H.r. Thabrani).</p>
<p>Menahan lisan agar jangan sampai menyakiti orang lain.</p>
<p>Seorang Muslim hendaknya menahan lisannya jangan sampai menyakiti orang lain. Diantara bentuk-bentuk gangguan lisan yang harus dihindarkan adalah:</p>
<p>a.	Melaknat dan mengutuk seorang Muslim. Rasul SAW bersabda:</p>
<p>“Janganlah kamu saling mengutuk dan laknat Allah, murka-Nya dan api neraka” (H.r. Abu Dawud dan Tirmidzi).</p>
<p>b.	Mencela, menghina dan mengolok-olok sesama Muslim. Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p>“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olok) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok)” (Q.s. al-Hujurat 49:11).</p>
<p>Rasul SAW bersabda:</p>
<p>“Mencela seorang Muslim adalah tindak kefasikan, dan membunuhnya adalah tindak kekufuran” (H.r. Bukhari dan Muslim).</p>
<p>c.	Menggunjing dan membicarakan keburukannya. Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p>“…Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha penerima tobat lagi Maha Penyayang” (Q.s. al-Hujurat 49: 12).</p>
<p>Rasul SAW bersabda:</p>
<p>“Wahai segenap orang yang beriman dengan lisannya sedang iman belum merasuk dalam hatinya, janganlah kalian menggunjing kaum Muslimin dan janganlah menyingkap aib mereka. Sebab, barangsiapa menelusuri aib mereka, maka Allah akan menelusuri aibnya, dan barangsiapa yang aibnya ditelusuri oleh Allah, maka aibnya akan terbongkar meski ia bersembunyi di rumahnya” (H.r. Tirmidzi).</p>
<p>d.	Menghardik dan membentak-bentak seorang Muslim. Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p>“Adapun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta maka janganlah kamu menghardiknya”<br />
(Q.s. adh-Dhuha 93: 9-10).</p>
<p>e.	Memanggil seorang Muslim dengan panggilan yang buruk, Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p>“… Janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim” (Q.s. al-Hujarat 49: 11)</p>
<p>f.	Melontarkan prasangka dan tuduhan terhadap sesama Muslim.</p>
<p>“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain…”. (Q.s. al-hujarat 49: 12).</p>
<p>Rasul SAW bersabda:</p>
<p>“Jauhilah prasangka, karena sesungguhnya prasangka itu adalah perkataan yang paling dusta” (H.r. Bukhari).</p>
<p>Menahan diri dari sikap dan tindakan yang menyakiti orang lain. Seorang Muslim hendaknya menahan diri dari sikap dan tindakan yang menyinggung perasaan dan menyakiti hati orang lain, di antaranya adalah:</p>
<p>a.	Sikap benci, iri dan dengki.</p>
<p>Rasul SAW bersabda:</p>
<p>“Janganlah kamu saling membenci, saling dengki, dan saling membelakangi. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. Tidak halal bagi sorang Muslim tidak bertegur sapa dengan saudaranya lebih dari tiga hari” (H.r. Bukhari).</p>
<p>b.	Sikap angkuh dan sombong terhadap orang lain dengan menolak kebenaran yang datang darinya dan melecehkannya.</p>
<p>Sikap ini sangat menyakitkan orang lain sehingga kita harus meninggalkannya. Rasul SAW bersabda:</p>
<p>“Tidak akan masuk surga seorang yang dalam hatinya terdapat seberat atom dari kesombongan. Seorang sahabat bertanya, ‘Sesungguhnya ada seorang yang ingin agar bajunya bagus dan sandalnya bagus, apakah ini termasuk kesombongan?’ Beliau menjawab, ‘Sesungguhnya Allah Maha indah dan menyukai keindahan. Kesombongan adalah penolakan terhadap kebenaran dan pelecehan terhadap orang lain’ (H.r. Muslim).</p>
<p>c.	Sikap apatis dan tidak peduli terhadap orang lain.</p>
<p>Sikap ini juga menyakitkan orang lain, sehingga kita harus meninggalkannya, dan berusaha untuk selalu peduli dengan saudara sesama Muslim. Rasul SAW bersabda:</p>
<p>“Barangsiapa di pagi hari tidak peduli dengan urusan kaum Muslimin, maka ia bukan bagian dari mereka” (H.r. Thabrani dan al-Hakim; disahihkan oleh as-Suyuthi).</p>
<p>(sumber: <em>Amalan</em>-<em>amalan Ringan Pembuka Pintu Surga</em>. Pengarang :  Fakhruddin Nursyam, Lc. Penerbit : <em>Uswah</em> [Kelompok Pro U Media]<em></em>. Yogyakarta, 2009)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ydsf.org/v2b/menahan-diri-dari-keburukan-adalah-sedekah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Abbad bin Bisyr ra</title>
		<link>http://www.ydsf.org/v2b/abbad-bin-bisyr-ra</link>
		<comments>http://www.ydsf.org/v2b/abbad-bin-bisyr-ra#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Jul 2010 07:49:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>YDSF</dc:creator>
				<category><![CDATA[Untaian Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ydsf.org/?p=323</guid>
		<description><![CDATA[<p>Abbad bin Bisyr ra adalah seorang sahabat yang tidak asing lagi dalam sejarah dakwah Islamiyah. Ia tidak hanya termasuk di antara para ‘abid (ahli ibadah), bertaqwa, dan menegakkan shalat setiap malam dengan membaca beberapa juz Al-Qur’an,tapi juga tergolong kalangan para&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Abbad bin Bisyr ra adalah seorang sahabat yang tidak asing lagi dalam sejarah dakwah Islamiyah. Ia tidak hanya termasuk di antara para ‘abid (ahli ibadah), bertaqwa, dan menegakkan shalat setiap malam dengan membaca beberapa juz Al-Qur’an,tapi juga tergolong kalangan para pahlawan,yang gagah berani,dalam menegakkan kalimah allah. Tidak hanya itu, ia juga seorang penguasa yang cakap,berbobot,dan dipercaya dalam urusan harta kekayaan kaum muslimin.<span id="more-323"></span></p>
<p>Ketika Islam mulai tersiar di Madinah,Abbad bin Bisyr Al-Asyhaly masih muda.Kulitnya yang bagus dan wajahnya yang rupawan memantulkan cahaya kesucian. Dalam kegiatan sehari-hari dia memperlihatkan tingkah laku yang baik,bersikap seperti orang-orang yang sudah dewasa,kendati usianya belum mencapai dua puluh lima tahun.</p>
<p>Dia mendekatkan diri kepada seorang da’I dari Mekah,yaitu Mush’ab bin Umair.Dalam tempo singkat hati keduanya terikat dalam ikatan iman yang kokoh.Abbad mulai belajar membaca Al-Qur’an kepada Mush’ab. Suaranya merdu,menyejukan dan menawan hati. Begitu senangnya membaca kalamullah,sehinga menjadi kegiatan utama baginya. Diulang-ulangnya siang dan malam,bahkan dijadikannya suata kewajiban.Karena itu dia terkenal di kalangan para sahabat sebagai imam dan pembaca Al-Qur’an.<br />
Pada suatu malam Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam sedang melaksanakan shalat tahajud di rumah Aisyah yang berdempetan dengan masjid. Terdengar oleh beliau suara Abbad bin Bisyr membaca Al-Qur’an dengan suara yang merdu,laksana suara jibril ketika menurunkan wahyu ke dalam hatinya.<br />
“Ya Aisyah,suara Abbad bin Bisyrkah itu?”  Tanya Rasulullah.<br />
“Betul,ya Rasulullah!” jawab Aisyah.<br />
Rasulullah berdoa, “Ya Allah,ampunilah dia!”</p>
<p>Abbad bin Bisyr turut Berperang bersama-sama Rasulullah Shallahu Alaihi wa Sallam dalam setiap peperangan yang beliau pimpin.Dalam peperangan-peperangan itu dia bertugas sebagai pembawa Al-Qur’an. Ketika Rasullah kembali dari peperangan Dzatur Riqa’, beliau beristirahat dengan seluruh pasukan muslim di lereng sebuah bukit.</p>
<p>Seorang prajurit muslim menawan seorang wanita musyrik yang di tinggal pergi oleh suaminya.Ketika suaminya datang kembali, istrinya sudah tiada.Dia bersumpah dengan Latta dan ‘Uzza akan menyusul Rasulullah dan pasukan kaum muslimin, ia tidak akan kembali kecuali setelah menumpahkan darah mereka.</p>
<p>Setibanya ditempat perhentian di atas bukit,Rasulullah bertanya kepada mereka,“Siapa yang bertugas jaga mala mini?”</p>
<p>Abbad  bin Bisyr dan Ammar bin Yasir berdiri, “Kami,ya Rasulullah!”Kata keduanya serentak.Rasulullah telah menjadikan keduanya bersaudara ketika kaum Muhajirin baru tiba di Madinah.</p>
<p>Ketika keduanya keluar mulut jalan (pos penjagaan), Abbad bertanya kepada Ammar,“Siapa diantara kita yang berjaga lebih dahulu?”</p>
<p>“Saya yang tidur lebih dahulu!” jawab Ammar yang bersiap-siap untuk berbaring tidak jauh dari tempat  penjagaan.</p>
<p>Suasana malam itu tenang,sunyi dan nyaman. Bintang gemintang, pohon-pohon dan batu-batuan, seakan sedang bertasbih memuji kebesaran Allah. Hati Abbad tergiur hendak turut melakukan ibadah. Dalam sekejap,ia pun larut dalam manisnya ayat-ayat Al-Qur’an yang di bacanya dalam shalat. Nikmat shalat dan  tilawah (bacaan Al-Qur’an) berpadu menjadi satu dalam jiwanya.</p>
<p>Dalam shalat dibacanya surat Al-Kahfi dengan suara memilukan,merdu bagi siapa pun yang mendengarnya. Ketika dia sedang bertasbih dalam cahaya ilahi yang meningkat tinggi,tenggelam dalam kelap-kelip  pancaranya,seorang laki-laki  datang memacu langkah tergesa-gesa.Laki-laki itu melihat dari kejauhan seorang hamba Allah sedang beribadat dimulut jalan, dia yakin Rasulullah dan para sahabat pasti berada di sana.Sedangkan orang yang sedang shalat itu adalah pengawal yang bertugas jaga.</p>
<p>Orang itu segera menyiapkan panah dan memanah Abbad tepat mengenainya.Abbad mencabut panah yang bersarang di tubuhnya sambil meneruskan bacaan dan tengelam dalam shalat.Orang itu memanah lagi dan mengenai Abbad dengan jitu. Abbad mencabut juga anak panah kedua ini dari tubuhnya seperti yang pertama.Kemudian orang itu memanah lagi.Abbad mencabutnya lagi seperti dua buah panah yang terdahulu.<br />
Giliran jaga bagi Amar bin Yasir pun tiba. Abbad merangkak ke dekat saudaranya yang tidur itu,lalu membangunkanya seraya berkata. “Bangun!Aku terluka parah dan lemas!”</p>
<p>Sementara itu, ketika melihat mereka berdua, si pemanah buru-buru melarikan diri.Amar menoleh kepada Abbad.Dilihatnya darah mengucur dari tiga buah lubang luka di tubuh Abbad.“Subhanallah!Mengapa kamu tidak membangunkan ketika panah pertama mengenaimu?” tanyanya keheranan.</p>
<blockquote><p>“Aku sedang membaca Al-Qur’an dalam shalat.Aku tidak ingin memutuskan bacaanku sebelum selesai.Demi Allah, kalaulah tidak karena takut akan menyia-nyiakan tugas yang di bebankan Rasullah, menjaga mulut jalan tempat kaum muslimin berkemah, biarlah tubuhku putus dari pada memutuskan bacaan dalam shalat, “jawab Abbad.</p></blockquote>
<p>Ketika perang dalam rangka memberantas orang-orang murtad berkecamuk di masa Abu bakar Radiyallahu Anhu, khalifah menyiapkan pasukan besar untuk menindas kekacauan yang ditimbulkan  oleh Musailamah Al-Kadzdzab. Abbad bin Bisyr termasuk pelopor dalam ketentaraan tersebut.<br />
Setelah diperhatikannya celah-celah pertempuran, Abbad berpendapat kaum muslimin tidak mungkin menang kaum Muhajirin dan kaum Anshar saling menyerahkan urusan satu sama lain.Bahkan mereka saling membenci dan saling mencela.Abbad yakin kaum muslimin tidak akan menang dalam pertempuran dengan kondisi pasukan yang tidak kompak itu.Kecuali bila kaum Anshar dan Muhajirin membentuk pasukannya masing-masing dengan tanggung jawab sendir-sendiri.Dengan begitu dapat diketahui dengan jelas mana pejuang yang sunguh-sunguh.</p>
<p>Sebelum pertempuran yang menentukan itu dimulai, Abbad bermimpi dalam tidurnya, seolah-olah dia melihat langit terbuka.Setelah dia memasukinya, dia langsung menggabungkan diri ke dalam dan mengunci pintu.Ketika Subuh tiba, Abbad menceritakan mimpinya itu kepada Abu Said Al-Khudri. “Demi Allah, itu benar-benar kejadian,hai Abu Said!” ujarnya.</p>
<p>Ketika perang mulai berlangsung, Abbad naik ke suatu bukit kecil seraya berteriak,“Hai kaum Anshar, berpisahlah kalian dari tentara yang banyak itu!Pecahkan sarung pedang kalian!Jangan tinggalkan Islam terhina atau tenggelam, niscaya bencana akan menimpa kalian!”</p>
<p>Abbad mengulang-ulang seruannya, sehingga sekitar empat ratus prajurit berkumpul di sekelilingnya.Di antara mereka terdapat perwira seperti Tsabit bin Oais, Al-Barra bin Malik, dan Abu Dujanah, pemegang pedang Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam.</p>
<p>Abbad dan pasukannya menyerbu memecah pasukan musuh dan menyebar maut dengan pedangnya.Kemunculanya menyebabkan pasukan Musailamah Al-Kadzab terdesak mundur dan melarikan diri ke Kebun Maut.</p>
<p>Disana, dekat pagar tembok Kebun Maut, Abbad  gugur sebagai syahid. Tubuhnya penuh dengan luka bekas pukulan pedang, tusukan lembing, panah yang menancap.Para sahabat hampir ta mengenalinya, setelah melihat beberapa tanda di bagian tubuhnya yang lain.Semoga Allah memberihkan pahala kepadanya dengan surga Firdaus seperti para syuhada’ lainya.Amin.(Sumber: 101 Sahabat Nabi, Hepi Andi Bastoni, Pustaka Al Kautsar)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ydsf.org/v2b/abbad-bin-bisyr-ra/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
