Amal Jariyah itu Bernama DGSD S1+
Artikel oleh: admin pada January 23, 2012 pukul 20:33 WIB. 1 Komentar
Oleh Adhan Sanusi*
Menginginkan anak yang berkualitas secara akademik dan berkarakter adalah dambaan semua orang tua. Karenanya menjadi sangat penting bagi orang tua untuk memilihkan anak lembaga pendidikan yang berkualitas.
Peran yang sangat fundamental dalam sekolah secara langsung pada anak-anak kita adalah guru.
Jika guru di sekolah tersebut berkualitas maka akan membawa dampak yang sangat bagus bagi anak didik kita. Sebaiknya jika karakter guru buruk maka akan berakibat buruk pada anak kita dan di situlah salah satu letak kualitas sebuah sekolah.
Diklat Guru Sekolah Dasar (DGSD S1+) adalah program peningkatan mutu guru hasil kerja sama YDSF Surabaya dan Yayasan Kualita pendidikan Indonesia (YKPI) untuk menyokong sekolah-sekolah agar mutu guru dari sekolah mereka berkualitas. Dari mereka diharapkan lahir murid-murid yang berkarakter.
Dari pengalaman mahasiswa DGSD mempraktikkan ilmu yang mereka dapatkan ternyata luar biasa besar efeknya. Tidak hanya berefek pada peningkatan karakter murid namun lebih jauh mampu membawa perubahan pada lingkungan keluarga murid.
Ini terjadi dan terungkap dari cerita seorang alumnus DGSD S1+ yang saat ini juga mengajar di sebuah Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT). Alhamdulillah, salah satu muridnya mampu menggerakkan orang tuanya untuk belajar lagi dan menghidupkan nuansa rohani di rumahnya. Cerita tersebut dituturkan langsung oleh orang tua si murid. Kedunya merasa terharu dan bangga karena melihat kemajuan pada perubahan sikap anaknya yang luar biasa.
Keluarganya berasal dari keluarga yang masih awam tentang agama. Sang anaknya masih duduk kelas 1. Ketika masuk kelas 1, ia hanya hafal surat Al Fatihah. Namun dalam perjalanan, hafalan Al Qurannya meningkat lebih cepat dari teman-temannya dan bahkan melampaui target sekolah. Ketika sang guru hanya menghafal satu ayat dari surat pendek dalam satu hari, besoknya dia datang dengan hafal satu surat pendek secara utuh. Padahal teman-temannya masih hafal satu ayat. Ketika dites ternyata dia hafal dengan lancar dengan pengucapan yang benar. Ternyata kelebihan pada anak tersebut yaitu cepat menghafal.
Selanjutnya apa yang terjadi anak tersebut? Dari cerita orang tuanya, di rumah ia memutar kaset/mp3 murottal Al Quran surat yang akan dihafal berulang-ulang, dari Ashar sampai Maghrib. Seketika itu juga dia sudah hafal satu surat.
Suatu hari sang anak meminta keluarganya untuk selalu shalat berjamaah di rumah. Dan dia meminta sang ayah mengimami. Masalahnya si bapak cuma hafal tiga surat ‘andalan’ yaitu: Al Ikhlas, Al Falaq dan An-Nas. Runyamnya bacaan dan pengucapan hurufnya pun masih belum benar.
Lucunya, saat sedang berlangsung shalat, si anak langsung menegur dengan suara keras, ”Ayah salah.” Tak cukup di situ. Setalah beberapa hari, anaknya protes lagi. ”Lho Ayah! Kok suratnya itu-itu saja? Surat yang lain dong, saya lho sudah sampai surat ini,” ucapnya sambil menyebut satu surat.
Sang Ayah ayah mulai merasa malu dan membuat alasan untuk tidak shalat di rumah. Akhirnya sang bapak bertekad menghafal surat– surat pendek lainnya. Ia juga membeli murottal Al Quran untuk didengarkan dan dihafalkan. Setelah hafal dia mulai berani mengimami lagi, namun jika diminta surat yang lain yang belum hafal dia mundur lagi dan menghafalkannya dulu. Demikian seterusnya.
Lahirnya anak seperti ini tidak lepas dari kualitas guru dan program sekolah. Ada motivasi yang mampu diserap murid dari gurunya. Bagi anak, guru adalah orang tua pertama. Sedang ayah-ibunya adalah orang tua kedua. Sebab acapkali apa yang dikatakan guru lebih banyak didengar daripada apa yang dikatakan orang tua. Anak selalu bilang, ”Kata Bu Guru begini…”
Kalau ingin investasi amal yang bekesinambungan tiada putus, tentu pilihan salah satunya adalah dunia pendidikan. Karena apa yang kita sumbangkan atau ajarkan akan terus mengalir selama kebaikan itu terus bergenerasi sampai hari kiamat. Mudah-mudahan penyelenggara DGSD S1+, para donatur YDSF, para dosen,dan mahasiswa menuainya di akhirat apa yang telah mereka tanam di dunia ini. Inilah amal jariah yang tiada putus, insyaAllah.
Tentu yang tidak kalah besar perannya dalam proses penggemblengan mahasiswa/i DGSD S1+ ini adalah para donatur YDSF. Dari donasi merekalah terlaksana DGSD. Peran besar ini tidak hanya besar dirasakan mahasiswa/i, di sisi Allah pun peran donatur YDSF ini sudah sangat luar biasa. Sebagaimana kaidah dalam agama, ”Siapa saja yang membantu orang lain sehingga bisa melakukan sebuah amal kebaikan, maka dia mendapatkan pahala yang sama dengan pelaku kebaikan tersebut.”
Kaidah ini diambil dari sebuah hadist Nabi saw, “Siapa saja yang menyiapkan perbekalan perang orang yang mau berperang di jalan Allah, maka dia sama dengan berperang. Dan siapa saja menanggung keluarga yang ditinggal perang maka dia sama (pahalanya) dengan berperang” (muttafaq alaih).
Maka kebaikan yang dilakukan si anak dan kebaikan yang dilakukan oleh guru yang telah mendapat ilmu dari program DGSD S1+ juga akan didapatkan oleh para donatur YDSF yang ikut membiayai program ini, insya Allah. Wallahu a’lam.{}
*Staf SIP (School Improvement Program) YKPI dan DGSD S1+

Semoga Bermanfaat dan bisa menjadi inspirasi umat islam di dunia di tengah-tengah zaman yang sulit di kendalikan.