Mahasiswa IAIN Wali Songo Semarang Kunjungi YDSF

iain walisongo

Artikel oleh: pada November 21, 2012 pukul 19:38 WIB. Belum ada komentar

YDSF ibarat rumah besar. Sebagai tuan rumah, jajaran manajemen dan pengurus YDSF menerima siapa saja tamu yang silaturahim dengan senang hati. Tak terkecuali saat menyambut rombongan mahasiswa IAIN Wali Songo Semarang. Rabu pagi (21/10), 40 mahasiwa angkatan 2009 dan empat dosen jurusan Manajemen Dakwah (MD) berkunjung ke Graha Zakat dalam rangka berdiskusi dengan jajaran manajemen YDSF Surabaya.

Menurut Drs. H. Adib Fathoni, M.Si, Ketua Jurusan MD IAIN Wali Songo, kunjungan ini terkait konsentrasi kelilmuan yang diajarkan. “Jurusan MD punya tiga konsentrasi: Bisnis Islam, Haji & Zakat. Nah, kedatangan kami ini dalam rangka menimba pengalaman YDSF dalam mengelola zakat, infaq, dan shadaqah (ZIS). Harapannya ini akan jadi bahan kajian bagi kami di kampus dalam meneliti ZIS dalam perspektif manejemen moderen,” jelasnya.

Pada sesi diskusi, rombongan diterima Widodo AS, Manajer Operasional & Umum YDSF. Ia memaparkan seluk beluk YDSF, mulai sejarah hingga program kerja. “Dalam menjalankan program kerja, kami punya lima bidang garap: pendidikan, dakwah, masjid, yatim & kemanusiaan. Di akhir tahun seperti ini, kami harus membuat rencana kerja. Salah satu menetapkan persentase alokasi tiap bidang garap selama setahun ke depan. Sehingga, kontrolnya akan lebih mudah, baik bulanan ataupun trimester,” jelas pria yang pernah jadi manajer marketing dan manajer fundraising YDSF ini.

Beberapa mahasiswa juga berkesempatan mengajukan pertanyaan. “Saya terkesan dengan kesadaran para donatur YDSF. Misalnya ada yang sampai yang rela menyedekahkan sepeda motornya ke YDSF. Saya penasaran apa strategi YDSF sehingga membuat masyarakat punya kesadaran yang tinggi,” ucap salah satu mahasiswi.

Widodo mengatakan bahwa YDSF sangat bersyukur kepada Allah swt. karena dipercaya banyak orang. “Tentu saja ini tanggung jawab yang besar agar terus menjaga kepercayaan ini. Salah satu prinsip yang kami pegang adalah bagaimana agar komunikasi dengan donatur tetap terjaga secara intens. Kami sering adakan kajian dan pertemuan dengan donatur untuk memelihara interaksi. Selain itu, tentu saja kita harus punya progran kerja yang nyata. Dengan demikian, program itu kita tawarkan supaya donatur bisa berpartisipasi, baik dana, materi ataupun lainnya,” jawabnya menjelaskan.

“Khusus untuk motor, itu memang kami alokasikan untuk para dai di pelosok. Ada beberapa dai yang tidak punya kendaraan. Padahal medannya cukup sulit dan berjauhan. Setelah kita tawarkan kepada donatur, alhamdulillah ada yang merespon. Bahkan lebih dari donatur yang mewakafkan motor,” imbuh pria yang cukup lama bertugas sebagai jungut YDSF Surabaya ini.{}