Program KUM Undang Dua Konsultan
Artikel oleh: admin pada September 30, 2011 pukul 12:28 WIB. 3 Komentar
Salah satu target utama pendayagunaan dana zakat, infaq & shadaqah (ZIS) adalah pengentasan kemiskinan. Sedangkan pengentasan kemiskinan bukanlah proyek simsalabim atau semudah membalik telapak tangan. Terlalu banyak aspek yang melingkup seperti permodalan, pemasaran, pendampingan, mentalitas, dsb.
Karena itu, Bidang Zakat dan Kemanusiaan (ZK) yang membina kelompok usaha mandiri (KUM) mengundang sejumlah konsultan ekonomi mikro. Di antaranya Indra Nur Fauzi, Direktur Regional Development Institute (REDI) dan Bondan Satriawan, konsultan dan dosen FE Universitas Trunojoyo.
Jumat pagi (30/9), keduanya berkunjung ke Graha Zakat YDSF Surabaya dalam rangka memenuhi undangan Bidang ZK. Mereka diterima Jauhari Sani (Direktur Pelaksana YDSF), Guritno (Kadiv Penyaluran), Aries Munandar (Manajer Bidang ZK), & Menik Soejitno (Koordinator KUM).
Jauhari memaparkan bahwa filosofi di YDSF bagaimana dana ZIS seoptimal mungkin bisa diserap. “Kami malah kuatir jika saldo kami masih banyak. Karena dana ini harus seluas mungkin dimanfaatkan. Dan program KUM ini masih sangat terbuka untuk dioptimalkan,” katanya.
Sementara itu, Indra mengusulkan untuk membuat tim panitia (ad hoc) untuk memetakan kondisi KUM YDSF. “Kami ingin lihat siapa saja yang masih eksis dan bisa diperkuat. Lalu tim ini akan memberi rekomendasi kepada manajemen YDSF apakah kebijakan KUM lebih benyak pada pendalaman atau perluasan. Pendalaman berarti memperkuat anggota yang eksis dengan menyuplai modal tambahan dan pendampingan. Sedangkan perluasan lebih pada penambahan anggota baru KUM yang berpotensi dibina,” jelasnya.{}
Ket foto: Indra (tiga dari kiri) & Bondan (empat dari kiri) saat berkunjung ke Graha Zakat YDSF
Jalannya tengahnya adalah penguatan dan perluasan, dan yang tak kalah pentingnya adalah penguatan guru-guru diniyah dipedesaan ,yang saya tahu mereka megajar benar-benar karena sebuah keinginan utk menjaga,mengajarkan,dan berusaha mejadikan agama sebagai budaya hidup,. Tak ada yg menggaji mereka, tak ada yg mau jadi donatur apalaagi sponsor?
Mudahan tdk spt pemberdayaan ala pemerintah banyak, karena masyarakat in sedang sakit, dab
REDI peduli semoga bisa perkenalkan YDSF ke pentas Dunia bersama Worl Bank, USAID, TAF dll