Rakor PDD, Dai Juga Harus Belajar

Rakor PDD sep11

Artikel oleh: pada September 29, 2011 pukul 14:06 WIB. Belum ada komentar

Belajar adalah kebutuhan dan kewajiban bagi setiap muslim tanpa kecuali, termasuk ustadz dan dai. Kamis pagi (29/9) para dai yang tergabung dalam Program Dai Desa (PDD) menghadiri pembinaan dan pembekalan di Ruang Serba Guna Kantor Penyaluran YDSF Surabaya. Sebanyak 38 dai PDD dari seluruh wilayah di Jawa Timur berkumpul untuk mendengarkan pembekalan dari KH. Agung Cahyadi, MA, pembina dan konsultan syariah Griya Al Quran Surabaya.

Menurut Ikak Iskandar, koordinator PDD YDSF, kegiatan ini bagian dari rakor (rapat koordinasi) yang dilakukan setiap dua bulan sekali. “Total jumlah dai PDD 45 orang. Yang berhalangan hadir kebanyakan karena sakit. Pembekalan kali ini mengambil tema haji dan umrah. Tema-tema lainnya sudah kami persiapkan, setelah berdiskusi dengan pembina,” jelasnya.

Selain pembekalan, lanjutnya, kegiatan ini juga untuk membahas laporan, evaluasi, dan koordinasi. Salah satu evaluasi rakor kali ini adalah pembuatan peta dakwah. Ainur Rohim, Manajer Bidang Dakwah & Masjid, menyatakan peta dakwah ini merupakan tugas bagi dai setelah mereka mengikuti Pelatihan Peta Dakwah yang diselanggarakan Mei 2011 lalu. “Mumpung ketemu, istilahnya kami mau menagih PR. Sehingga YDSF punya peta dakwah yang valid. Bukankah berdakwah itu butuh data yang shahih alias valid?” tandas alumnus IAIN Sunan Ampel Surabaya ini.

Dalam kesempatan ini, Bidang Zakat & Kemanusiaan juga berkesempatan mempresentasikan program pemberdayaan ekonomi desa (PED) di hadapan para dai. “Sebenarnya anggaran untuk PED masih mencukupi. Tapi belum banyak terserap oleh dai. Kami berharap para dai bisa lebih proaktif memberdayakan sektor ekonomi jamaahnya. Karena, sektor ini harus sinergi dengan sektor agama. Akan lebih efektif jika penguatan aqidah sejalan dengan penguatan ekonomi,” papar Kamil Mukhtar, koordinator PED YDSF.{}