Rombongan Pejabat KUA Berdiskusi Pengelolaan Wakaf di YDSF

diskusi wakaf kua n ydsf

Artikel oleh: pada June 12, 2013 pukul 15:56 WIB. Belum ada komentar

Sesudah menjadi aksioma bahwa membangun itu sulit, namun lebih sulit lagi merawat banguna itu. Itulah hal terpenting yang menjadi bahan diskusi pengelolaan harta wakaf di Graha Zakat 2 YDSF Surabaya, Rabu (12/6). Diskusi ini menghadirkan 29 aparatur Kantor Urusan Agama (KUA) dari berbagai kota di Jawa Timur. Kedatangan mereka dalam rangka mengkuti rangkaian pendidikan & pelatihan bagi pejabat wakaf di lingkungan Kementerian Agama Wilayah Jawa Timur.

Habibah, pelaksana diklat, menyatakan 29 pejabat KUA ini sudah dua hari mengikuti pelatihan di Balai Diklat Kemenag Wilayah Jawa Timur di Ketintang, Surabaya. “Hari ini kami sengaja mengajak mereka ke YDSF untuk mendapatkan pengalaman baru tentang pengelolaan harta wakaf dari kaum muslimin. Sesi kunjungan ke YDSF ini merupakan observasi praktik pengelolaan wakaf. Selain pejabat KUA, ada 5 pembimbing yang ikut ke sini,” tuturnya.

Dalam paparannya, Aries Munandar, Kepala Divisi Pendayagunaan, sejauh ini YDSF lebih sering memosisikan sebagai fasilitator. “Kami selalu meminta pengelola harta wakaf itu untuk lebih berkomitmen memanfaatkan harta tersebut. Misalnya pengelola itu dai atau guru yang harus dibantu warga sekitar. Nah, YDSF siap memberi dukungan materi maupun materi bagi pengelola,” paparnya.

Ia memberi contohnya pengelolaan sumur air bersih di lokasi tanah wakaf kompleks Masjid Al Hasan Dusun Darungan, Desa Kalirejo, Kec. Kalipare, Kabupaten Malang (artikel lengkapnya). “Proyek itu sumur air itu menghabiskan dana Rp 120 juta. Awalnya warga hanya bisa mengebor sumur tanpa hasil. Itupun sudah habis Rp 30 juta. Alhamdulillah, memberi dukungan sebesar Rp 75 juta hingga air itu bisa mengalir ke masjid. Bahkan kini air itu sudah masuk ke 650 kepala keluarga dengan sistem pipanisasi yang dikelola secara swadaya,” jelas alumnus Fakultas Pertanian UPN Veteran Surabaya ini.

“Mengelola lebih rumit daripada sekadar membangun. Jadi, kita harus memilih salah satu peran terbaik yang bisa kita sumbangkan untuk umat. Peran YDSF selama ini hanya jembatan dan pendamping bagi dai, guru ataupun pengelola harta wakaf dengan para donatur atau juga sponsor,” pungkasnya.(naskah-foto oki).{}