UPDATE NEWS

...

Sunday, 31 May 2020 08:00

Menumbuhkan Kebiasaan Berbagi Menjadi Sebuah Kebutuhan Hidup | YDSF

 

Jadi, sepenting apakah sebenarnya berbagi itu? Apakah hanya sebuah rutinitas untuk menyisihkan rezeki yang kita miliki? Padahal dengan berbagi dapat memberikan banyak berkah di dunia bahkan hingga di akhirat kelak. 

Islam mengajarkan kepada kita untuk menjadi orang yang selalu berbagi kepada orang lain. Sebagaimana hadits rasulullah:

الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى

“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.” (HR Bukhori)

Maksud “tangan di atas” adalah memberi, sedangkan “tangan di bawah” meminta. Rasulullah memotivasi umatnya agar gemar memberi dan menjauhi minta-minta. Intinya, memberi lebih baik daripada meminta.

Rasulullah pernah memerintahkan Bilal untuk berinfaq, padahal Bilal dikenal sebagai sahabat yang miskin. Ia budak yang dimerdekakan oleh Abu Bakar As-Sidiq. Perintah Rasulullah ini diabadikan dalam hadits riwayat Baihaqi:

أَنْفِقْ بِلَالًا وَلَا تَخْشَ مِنْ ذِي الْعَرْشِ إِقْلَالًا

"Berinfakanlah wahai Bilal, jangan takut pemilik ‘Arsy (Allah) kurangi hartamu.” (HR. Al-Baihaqi)

Rasulullah ingin membangun mental umat Islam untuk selalu memberi. Karena setiap harta yang dinfaqkan pasti akan diganti oleh Allah. Tidak ada cerita orang menjadi miskin karena gemar berbagi.

Dari sini kita sebagai muslim dituntut untuk selalu mengembangkan potensi yang kita miliki, selalu memperbaiki diri, sehingga bisa lebih banyak memberi manfaat. Ketika potensi makin berkembang, semakin banyak kebaikan dan manfaat yang bisa kita berikan kepada orang lain.

Tidak sebatas memberi materi. Bisa berupa memberi ilmu, memberi jasa, ataupun tenaga. Intinya, kita ikut berkontribusi untuk kemajuan umat.

Berhak diberi?

Lantas, siapa yang paling berhak diberi infaq?

“Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: "Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan". Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.” (QS Al-Baqarah 215)

Infaq yang paling utama diberikan kepada keluarga, orangtua, kerabat, anak yatim, orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan. Dalam sebuah hadits, Rasulullah juga menjelaskan tentang hal ini.

Rasulullah pernah memberikan uang kepada seorang lelaki dari Bani Udzrah, kemudian Rasulullah bersabda: “(Gunakanlah ini) untuk memenuhi kebutuhanmu dahulu, maka bersedekahlah dengannya untuk (mencukupi kebutuhan) dirimu. Jika masih berlebih, berikanlah kepada keluargamu. Jika masih berlebih, berikanlah kepada kerabatmu. Jika masih berlebih, berikanlah kepada ini dan itu.” (HR. Muslim)

Enggan Berbagi

Berbagi bukan hanya kewajiban, tetapi juga kebutuhan. Karena setiap kebaikan pasti akan berbalik kepada diri sendiri. Allah akan memperlakukan kita, sebagaimana kita mamperlakukan makhluk Allah yang lain. Jika ingin diberi, maka berilah hamba-hamba Allah. Jika ingin dipermudah, maka permudahlah hamba-hamba Allah. Sebaliknya, jika ingin dipersulit, persulitlah hamba-hamba Allah. Karena semua perbuatan pasti akan ada akibatnya.

Orang yang enggan berbagi disebut sebagai orang kikir atau pelit. Orang kikir berarti tidak mensukuri nikmat Allah, Karena ciri orang yang mensyukuri nikmat Allah adalah dengan cara gemar berbagi.

Orang yang memiliki sifat kikir, lebih dekat dengan setan daripada kepada Allah.

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui.” (QS Al-Baqarah 268)

Orang yang tidak mau berbagi karena takut miskin, sebenarnya ia sedang mempercayai apa yang dibisikkan setan. Dalam kondisi seperti itu, berarti ia sedang lemah imannya.

Tentu orang yang tidak mau berbagi ada risikonya, siapa yang memberi akan diberi, siapa yang menolong akan ditolong. Itu sudah menjadi sunnatullah. Rasulullah telah memotivasi kita untuk gemar memberi.

 “Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allâh melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan (dalam masalah hutang), maka Allâh Azza wa Jalla memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutupi (aib) seorang Muslim, maka Allâh akan menutup (aib)nya di dunia dan akhirat. Allâh senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya …”  (HR. Muslim). (Habibi, Oleh Isa Kuddeh)

 

Sumber Majalah Al Falah Edisi Januari 2020

 

Baca juga:

Qada’ Puasa Ramadhan vs. Puasa Syawal

KEUTAMAAN BULAN SYAWAL | YDSF

Keutamaan Puasa Syawal

MERAIH KEBERHASILAN PUASA | YDSF

BONUS GAJI ATAU THR MASUK HITUNGAN ZAKAT PENGHASILAN | YDSF

Mengeluarkan Sedekah Dari Bunga Bank | YDSF

HUKUM BAYAR ZAKAT ONLINE DALAM ISLAM | YDSF

Share: