Meretas Jalan Syariah
Artikel oleh: Oki Aryono pada June 7, 2011 pukul 16:04 WIB. Belum ada komentar
Oleh Tjuk Suwarsono*
Siapa tak kenal negeri muslim terbesar di dunia?
Adalah Indonesia, yang meski telah 66 tahun merdeka, namun secara finansial negeri besar ini masih belum terbebas dari telapak kaki para saudagar uang dunia. Begitulah, kolonisasi modern kini bukan lagi dimotori angkatan bersenjata, melainkan kekuatan maya keuangan yang bukan saja intangible (tak terlihat) tetapi juga untouchable (tak tersentuh).
Siapakah para pemain uang dunia itu? Anda hanya bisa merasakan ulahnya, tanpa bisa menyentuh wadahnya. ‘Para penguasa dunia’ itu bisa muncul dalam berbagai wajah. Ada yang bermimik pasar modal (stock exchange), berprofil kartel minyak, bersosok hedge-fund, atau berwujud korporasi negara. Semuanya sama membahayakan, karena bisa melakukan aksi tunggal merusak arus kas (cashflow) APBN kita, atau berkolaborasi mengeroyok kita layaknya ulat bulu menggempur tanaman petani.
Aksi ugal-ugalan (hostile action) mereka itu bisa muncul tiba-tiba. Acapkali tak jelas apa maksudnya, tapi terkadang hanya lantaran terpicu berbagai kegaduhan politik seperti krisis Libia dan Timur Tengah, atau atau gempa besar yang melumpuhkan Jepang. Apapun penyebabnya, akibatnya jelas, yaitu terganggunya stabilitas Negara.
Mungkinkah sebagai Negara muslim kita membangun kekuatan finansial yang tahan gempuran seperti keperkasaan Syariah Malaysia atau Arab Saudi? Sistem Syariah kini diagungkan sebagai peredam badai krisis keuangan yang kembali meletus 2008. Sebuah krisis keuangan dan ekonomi yang dampaknya lebih masif ketimbang serangan Al-Qaeda terhadap menara kembar World Trade Centre. Penyebab utamanya adalah sistem keuangan derivatif, eksploitasi modal dalam waktu cepat, membludaknya industri jasa (terutama jasa keuangan) menenggelamkan industri manufaktur.
Andalkan Sektor Riil
Sistem ekonomi syariah sanggup bertahan dari keruntuhan perbankan konvensional, karena syariah mengutamakan membangun sektor riil (meskipun berskala kecil) ketimbang penggelembungan instan lewat kapitalisasi maya. Saat ini Malaysia menguasai 80 % instrumen keuangan syariah yang beredar di pasar global. Malaysia punya infrastruktur syariah yang memadai, mulai dari institusi keuangan syariah yang andal, produk keuangan syariah yang beragam, dan peraturan yang pro-pasar.
Malaysia menjadi tempat investasi syariah yang diburu investor global, terutama Timur Tengah. Syariah tidak mengelola hot money, melainkan setiap uang harus punya dasar aset (underlying asset) dan harus digulirkan ke sektor riil. Justru di sini repotnya, dana berlimpah itu justru tidak terserap. Investasi sektor riil justru terbatas di Malaysia karena mereka sudah cukup maju di segala hal. Sementara itu, uang dari negeri muslim petro-dolar Timur Tengah berlimpah. Kini Malaysia lebih memosisikan diri sebagai terminal aliran modal dari Timteng ke Indonesia, sekaligus membuktikan dirinya lebih hebat ketimbang Singapura.
Tak heran Malayan Banking Berhad (Maybank), salah satu bank terbesar Malaysia, Rabu 26 Maret 2008 mengakuisisi Bank International Indonesia (BII) Tbk senilai 1,5 miliar dolar (sekitar Rp 13,65 triliun) atau 56,8 % saham. Maybank milik Pemerintah Malaysia menyiapkan dana Rp 24,5 triliun untuk mengakuisisi 100 % saham BII, salah satu bank papan atas. Dana itu mengesankan Maybank sangat royal, bayangkan nilai saham BII dihargai 4,5 kali nilai buku (price to book value/PBV).
Ini merupakan penjualan bank dengan PBV tertinggi di Indonesia, bahkan di Asia. Mereka tertarik BII karena melihat penetrasi industri bank di sini masih rendah, sehingga kemungkinan berkembang sangat besar. Ada sinergi bisnis antarsektor dan antarwilayah yang sangat besar. Temasek Holding, perusahaan investasi Singapura, meraup untung besar dari penjualan 42 % sahamnya di BII kepada Maybank. Hanya dalam empat tahun, harga jual BII melonjak lebih 10 kali lipat. Akuisisi BII ini memecahkan rekor penjualan bank di Indonesia. (Kompas, Kamis 27-03-2008 hlm 21). Beberapa bank swasta terkemuka di Indonesia juga diincar Malaysia dan sudah berhasil dikuasai.
Inspirasi Bangladesh
Pelajaran apa yang tebersit?
Sebagai Negara muslim terbesar, kita belum sanggup menobatkan syariah sebagai lokomotif perbankan. Sebaliknya kian banyak saja bank kita yang direbut asing seperti NISP (milik keluarga Suryahudaya) oleh OCBC-Hongkong; Bank Niaga digaet CIMB; Bank BTPN, Danamon, ANK. Bahkan bank asing pula yang beramai-ramai mendirikan syariah.
Pengendali utama banjir dana syariah adalah negeri Islam Timur Tengah. Indonesia menjalin kerjasama dengan Malaysia untuk ‘menangkap’ limpahan dana itu. Sekarang semuanya masih melalui Malaysia. Kita perlukan UU Surat Berharga Syariah Negara, karena Bank Indonesia targetkan pertumbuhan Syariah 5 % setahun. Sekarang baru 1,5 %. Skala total dana syariah juga baru 9% tabungan perbankan nasional.
Jika Bangladesh saja bisa menciptakan Grameen Bank yang menyasar kaum wanita lemah di perdesaan, kita memerlukan lebih banyak dari itu. Mohammad Yunus, doktor keuangan lulusan Prancis dan pemenang Nobel, meninggalkan kemewahan Eropa. Ia memilih pulang kampung mengurus ‘bank titil’ ini. Banyak sudah studi banding pejabat dan ahli-ahli keuangan Indonesia berguru ke kantor Grameen yang serba bersahaja di Dhaka. Mereka mendapati Yunus yang tidak berjas dan berdasi. Ruangannya bahkan tanpa penyejuk udara. Mobilnya sedan tua. Dan gajinya sebagai dirut Grameen cuma setara guru SMA.
Kita punya banyak ahli ekonomi dan keuangan. Mereka umumnya dapat pekerjaan bagus di banyak korporasi asing. Adakah yang masih tergerak melakukan aksi nyata untuk mayoritas rakyatnya yang nestapa?{}
(Ditulis untuk majalah Al Falah YDSF Surabaya)
*Praktisi dan pengajar media-kehumasan
tjuk_suwarsono@yahoo.co.id
