Toilet Dan Manajemen Aib*

Artikel oleh: pada October 1, 2010 pukul 10:42 WIB. Belum ada komentar

Toilet, kata itu pasti kita sering dengar atau bahkan mungkin kita ucapkan hampir setiap hari. Karena kita semua memang memerlukan toilet. Bisa kita bayangkan, bagaimana wajah dunia ini jika tanpa toilet. Bukan hanya lingkungan yang rusak, tubuh kita juga dipastikan akan penuh dengan penyakit, bahkan bisa berdampak kematian, jika kotoran yang ada tidak dikeluarkan.

Di kampung-kampung zaman dulu, saat masyarakat masih setengah primitif, toilet berebaran di mana-mana. belakang rumah, samping rumah, depan rumah, bahkan ada yang tidak punya toilet, maka kotoran pun tersebar di mana-mana. Kondisi seperti ini tentu tidak nyaman.

Seiring dengan perkembangan zaman, toilet makin tersembunyi rapi. Bahkan belakangan orangpun rela mengeluarkan uang untuk menggunakan jasa toilet ini. Dan tentu lagi-lagi orang akan lebih suka untuk memasuki toilet yang menjaga privasi, dan tentunya bersih.

Di Kuala Lumpur, ada toilet yang sangat mahal, tepatnya di KLCC (menara kembar). Meski mahal, dan bahkan tertera pengumuman di pintu masuknya bahwa di setiap tingkat dari bangunan tersebut terdapat toilet gratis, toh banyak yang rela untuk membuang hajatnya di tempat tersebut. bahkan banyak masyarakat yang lebih senang dan puas dengan service termahal di negeri jiran itu.

Mengapa demikian? Minimal ada dua alasan: ketenangan dan privasi. Dua hal ini mutlak diperlukan saat buang hajat. Jika dua hal ini tidak terpenuhi, maka bisa dipastikan proses buang sesuatu yang memang harus dibuang tersebut akan terganggu, atau bahkan gagal sama sekali.

Kotoran Batin
Dalam diri kita, tentu bukan saja terdapat kotoran lahir yang perlu kita buang serapi dan senyaman mungkin, hingga perlu toilet, tapi juga terdapat kotoran batin, dan dosa yang kita perbuat adalah kotoran batin itu. Dalam al-Qur’an Allah sering menyebut dosa dengan istilah fahsyaa dan suu’ atau dalam bentuk jamak sayyiaat yang berarti sesuatu yang keji, kotor, dan jelek.

Dosa inilah yang sebenarnya merupakan aib dengan arti yang sesungguhnya. Aib dimata manusia, juga aib dimata Allah swt. Karena aib inilah pelaku dosa sesungguhnya sangat tidak tenang dan tidak ingin dilihat orang (malu) saat melakukan perbuatan dosa. Rasulullah saw. bersabda, ”Dosa adalah apa yang membuat resah dalam hatimu, dan kamu tidak suka dilihat orang lains aat melakukannya” (HR. Muslim).

Seperti kotoran lahir, kotoran batin pun (dosa/aib) harus dibuang. Jika tidak, maka akan mengakibatkan penyakit . Jika kotoran lahir tidak dibuang akan berakibat fatal secara personal dan sosial, pun demikian kotoran lahir jika tidak dibuang.

Secara personal seseorang yang dipenuhi dengan kotoran batin atau aib (baca: dosa) karena tidak pernah dibuang, akan terjangkit berbagai penyakit kejiwaan. Mulai hanya sekadar resah, gelisah, tidak memiliki kepercayaan diri, merasa tidak bahagia, menderita secara kejiwaan (hidupnya sangat tidak bahagia), dan puncaknya bisa terjangkit penyakit fisik yang mematikan misalnya stroke atau jantung koroner.

Sedangkan secara sosial, akan mencemari lingkungan sekitarnya. Kotorannya (baca dosa/maksiat/aib) akan menular kepada orang-orang yang berada di sekitar, jika tidak dibendung maka akan menjadi epidemi yang susah dibasmi. Inilah kemudian kita sering mendengar istilah pasar loak (tempat jual beli barang haram), lokalisasi, sarang maling, geng jambret, dan berbagai predikat buruk lainnya pada tempat-tempat yang identik dengan kejahatan tertentu.

Dan sudah barang tentu predikat ini tidak terjadi secara tiba-tiba, tapi secara perlahan, mulai dosa ringan, sedang, dan dosa besar. Mulai hanya melakukan sekali hingga berkali-kali. Dari satu orang, dua orang, tiga orang dan terus menjalar hingga membentuk sebuah komunitas dan lingkungan kejahatan. Dalam Al quran Allah juga mengistilahkan dosa sebagai penyakit dan penyakit itu akan bertambah, “Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta” (QS. Al Baqarah 10). Dalam catatan kaki terjemahan Al Quran versi Depag RI, penyakit hati ini dicontohkan misalnya ragu dan tidak yakin akan kebenaran, munafik, dan tidak beriman.

Dua Syarat Buang Kotoran Batin
Untuk membuang kotoran batin (aib/dosa) juga berlaku falsafah toilet. Dua syarat utama yang ada pada toilet, juga diperlukan pada proses pembuangan kotoran batin: ketenangan dan privasi. Terutama aib atau dosa yang tidak ada kaitannya dengan manusia. Dalam Islam, permohonan ampun tidak perlu diketahui oleh orang lain. Cukup meratapi dosa/aib di hadapan Allah swt, memohon ampunan-Nya dan bertekad sekuat tenaga untuk tidak mengulangi. Kecuali dosa tersebut berkaitan dengan hak manusia, maka ada satu hal lagi yang harus kita lakukan. Yakni kita harus meminta maaf, mengembalikan atau mengganti suatu barang yang telah kita rusak atau curi.

Namun apabila dosa tersebut berkaitan dengan menggunjing, qodzaf (menuduh telah berzina) atau yang semisalnya yang apabila saudara kita tadi belum mengetahuinya (bahwa dia telah digunjing atau dituduh), maka cukuplah bagi orang telah melakukannya tersebut untuk bertobat kepada Allah, mengungkapkan kebaikan-kebaikan saudaranya tadi serta senantiasa mendoakan kebaikan dan memintakan ampun untuk mereka. Sebab dikuatirkan apabila diharuskan berterus terang kepada orangnya yang telah kita gunjing atau tuduh justru dapat dikuatirkan menimbulkan peselisihan dan perpecahan.

Demikian halnya dengan ketenangan, proses pembuangan kotoran batin atau aib ini juga memerlukan suasana yang tenang. Dalam al-Quran, Allah memerintahkan kita agar berdoa dengan cara merendahkan diri dan dan dengan suara yang lembut. “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas” (QS. Al-A’raf 55). Tentu dua hal ini (privasi & ketenangan) tidak mungkin terlaksana jika suasananya tidak tenang.

Karena kotoran batin ini bentuk dan pintu masuknya sangat banyak, maka Allah memberikan keringanan kepada kita dengan memberikan cara yang beragam juga untu menghilangkan aib tersebut. Di antaranya tentu bertobat di atas, dengan jalan benar-benar memohon kepada Allah, beristighfar dan bersungguh-sungguh untuk tidak mengulangi dosa.

Pembersih Sekaligus Pintu Rezeki

Kita juga mengenal shadaqah & zakat. Kedua hal ini selain akan mensucikan harta juga bisa mensucikan aib (dosa) kita, sebagaimana yang dinyatakan oleh Rasulullah saw, ”Ambillah shadaqah (termasuk zakat tentunya) dari harta mereka untuk mensucikan mereka…” Kata tuthohhiruhum dalam hadits tersebut menurut banyak ulama -termasuk Imam at-Thabary- adalah membersihkan dari dosa.

Memperbanyak amal baik juga bisa menjadi cara untuk membuang atau menghapus kotoran batin. Sebagaimana dinyatakan oleh Allah dalam al Quran, “….sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu akan menghilangkan keburukan-keburukan (dosa)…” (QS. Huud 114).

Berwudhu lalu berjalan menuju ke masjid untuk shalat berjamaah, shalat 5 waktu, puasa Ramadhan, haji, umrah, dan berjihad di jalan Allah juga merupakan pintu-pintu untuk membuang kotoran batin. Dengan kemudahan-kemudahan seperti ini, tentu bagi orang yang berakal akan segera membuang kotoran batinnya. Jika tidak, maka kotorannya akan menumpuk dan mati dalam gelimangan dosa hingga Allah tidak akan mengampuninya.

Allah swt. berfirman (artinya), “Sesungguhnya tobat di sisi Allah hanyalah tobat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertobat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah tobatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan tidaklah tobat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia berkata, ‘Sesungguhnya saya bertobat sekarang.’ Dan tidak (pula diterima tobat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih” (QS. An Nisaa’ 17-18).

Jika kotoran batin ini senantiasa kita buang, maka kita tidak hanya dijanjikan pengampunan dan surge, di duniapun rezeki kita akan dilimpahkan oleh Allah swt, sebagaimana yang dinyatakan dalam ayat-Nya (artinya), “…maka aku (Nuh) katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai’” (QS. Nuh: 10-12).

*Ditulis oleh ES. Soepriyadi (pemerhati masalah sosial & dakwah, tinggal di Batam) untuk Al Falah, majalah donatur YDSF

es_soepriyadi@yahoo.com

ES. Soepriyadi

FacebookTwitterGoogle+Google BookmarksYahoo MailPrintShare