Zaman Utang
Artikel oleh: Oki Aryono pada April 27, 2011 pukul 11:07 WIB. Belum ada komentar
Oleh: Mukas Kuluki*
Kebanyakan orang pasti tak mau punya utang. Tapi, itu dulu. Di zaman modern seperti saat ini, tak punya utang justru rasanya ada yang kurang. Rasanya tak afdol bila tak punya utang. Maklum, bila tak berutang kita bakal susah punya barang. Beli handphone utang, beli sepeda motor utang, beli mobil utang, hingga beli rumah pun berutang. Apalagi, kini berutang kian gampang.
Berutang gampang memang, tapi nyicilnya yang berat bukan kepalang. Awalnya terasa enak lantaran bisa punya cepat barang. Belakangan kepala nyut-nyutan lantaran mesti mikir cicilan. Tak jarang uang belanja bulanan tersedot untuk bayar utang. Akhirnya malah besar pasak daripada tiang.
Memang, dari perspektif ilmu ekonomi, utang bukan sesuatu yang haram. Malah, utang dianjurkan untuk mengakselerasi kekayaan dan kemakmuran. Syaratnya, utang mesti dialokasikan untuk sesuatu yang produktif, dan bukan konsumtif. Misalnya utang untuk membeli rumah atau aset properti, buat membeli mobil lantas disewakan, atau buat membeli motor lantas diojekkan.
Ambil contoh utang untuk membeli aset properti. Di tahun-tahun awal, memang terasa berat. Namun, belakangan pasti terasa ringan seiring bertambahnya pendapatan dan berlanjutnya zaman. Karena itu, seandainya sudah terasa agak longgar, tak ada salahnya mengambil lagi utang properti. Toh, total cicilan plus pokok utang bakal lebih kecil dari harga aset properti bila lunas kelak. Aset properti bisa menjadi celengan di masa mendatang, asal dilakukan dengan penuh perhitungan.
Paling berat bila utang dibelanjakan untuk barang konsumtif seperti handphone atau produk elektronik. Sebab, value-nya terus menurun dari waktu ke waktu, dan di sisi lain kita tetap mencicil pokok dan bunga utang pada periode tertentu. Boleh dikata, utang kartu kredit adalah yang paling menjerumuskan. Sebab, kadang kita tertipu. Ternyata suku bunga kartu kredit kelewat menjulang.
Lahirlah Ketidakadilan
Di sinilah rasa ketidakadilan muncul. Bank terlihat begitu ‘rakus’ meraup laba dengan agresif menaikkan suku bunga. Pada tahun awal kredit, suku bunga biasanya memang tetap (fixed). Namun tahun-tahun berikutnya, bunganya terasa mencekik leher dan ogah turun dari ketinggian. Padahal, suku bunga acuan atau BI rate dalam setahun terakhir relatif rendah.
Namun, yang turun hanya suku bunga simpanan masyarakat. Sedangkan bunga pinjaman tetap bertahan. Bahasa sederhananya, kulakan murah tapi jualannya mahal. Karena itu, tak perlu heran bila perbankan nasional rata-rata meraup untung triliunan, bila melihat laporan keuangan 2010. Seakan-akan insan perbankan hidup dengan kemewahan, bergelimang uang di atas penderitaan orang. Bahkan yang terbaru, ada yang mesti kehilangan nyawa gara-gara bunga dan tagihannya mendadak membengkak.
Berangkat dari itu semua, kita memang harus menimbang dengan matang sebelum berutang. Ada utang yang menguntungkan, ada pula yang merugikan. Utang kartu kredit pun tak selamanya merugikan. Asal kita disiplin membayar sebelum jatuh tempo, utang kartu kredit malah menguntungkan. Sebab, kita bisa membeli barang tapi bayar belakangan. Bahkan, tak sedikit pula merchant yang memberikan potongan.
Bagi perbankan, mungkin sudah saatnya mengerem agresifitasnya meraup laba. Ingat, salah satu penyebab krisis keuangan di Amerika Serikat (AS) pada 2007-2008 silam adalah akibat kerakusan lembaga finansial meraup untung. Masa untung segunung masih kurang. Justru bunga tinggi menimbulkan beban berat di pundak debitor, dan berpotensi memicu kredit macet. Meminjam istilah guru marketing Hermawan Kartajaya, ”Bagaimana menurut pendapat Anda?”{}
(Ditulis untuk Al Falah, majalah donatur YDSF)
*Alumnus FE Unair, pemerhati ekonomi
