Mengapa Kita Harus Ikut Menyuruh Kebajikan & Mencegah Kejahatan?(bag 1)

Artikel oleh: pada March 24, 2011 pukul 10:30 WIB. Belum ada komentar

Penyakit jika dibiarkan begitu saja tanpa diobati maka akan merembet ke seluruh tubuh kemudian makin sulit diobati. Kemungkaran juga demikian jika dibiarkan. Jika dibiarkan saja, maka tak lama kemudian kemungkaran itu akan dianggap sesuatu yang wajar adanya. Bisa jadi dilakukan orang dewasa dan anak kecil. Jika itu telah terjadi, maka kemungkaran itu sulit diubah atau dihilangkan.

Pun juga jika rumah tidak diurus dan tidak dibersihkan dalam waktu tertentu maka akhirnya rumah itu tidak layak huni, baunya tak sedap, dan banyak hewan yang membawa bibit penyakit. Begitu pula kemungkaran, jika dibiarkan begitu saja dan dalam waktu yang sama kebaikan tidak diperintahkan maka masyarakat akan roboh seperti rumah karena sendi-sendinya telah keropos tak terawat.

Ketika korupsi sudah seperti tradisi, suap-menyuap menjadi kelaziman, kecurangan menimbang, perzinaan dan praktik amoral lainnya menjadi jamak maka amar makruf nahi mungkar menjadi suatu keniscayaan. Jika tidak ada bergerak melakukan perubahan, maka kita pasti terkena getahnya. Bahkan para ulama terdahulu menganggap orang yang diam di tengah kerusakan ibarat setan yang diam.

Ada beberapa alasan lain mengapa setiap muslim harus melakukan amar makruf nahi mungkar, antara lain:

1. Kewajiban terbesar setelah kewajiban mengimani/menyembah Allah swt.
Jika amar makruf nahi mungkar dan berdakwah hanya menjadi tugas ulama/ustadz, maka kemungkinan besar Islam tak akan sampai kepada kita. Bagaimana mungkin Islam bisa sampai Tanah Air jika para sahabat Nabi hingga generasi sesudahnya tidak melaksanakan kewajiban berdakwah.

Karena Allah swt. memerintahkan yang demikian, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…” (QS. At Tahrim 6).

Keluarga di sini juga bisa berarti keluarga besar. Bisa juga keluarga dalam arti masyarakat yang hidup di sekitar kita. Bahkan seluruh manusia adalah satu keluarga dari keturuan yang satu yaitu Adam as.

Allah juga berfirman, “Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik” (QS. Al Hijr 94).

Saking pentingnya Rasulullah Muhammad saw. memerintahkan setiap muslim menyeru kebenaran walau hanya dengan satu ayat. “Sampaikan dariku walau satu ayat” (HR. Bukhari).

Contoh nyata adalah kisah Islamnya Abu Dzar Al Ghifari ra, salah satu sahabat Nabi Muhammad saw. Ketika Nabi saw. masih berdakwah secara sembunyi-sembunyi di Mekkah, Abu Dzar penasaran. Padahal nageri asalnya cukup jauh dari Mekkah. Ia berasal dari suku Ghifar tergolong suku secara nomaden, tapi kaum Ghifar banyak ditemui pedagang Arab saat berdagang ke Syam (Syiria). Kabilah Ghifar terkenal sebagai kaum yang sangat ahli dalam pengembaraan dan melacak jejak.

Ia mendatangi Mekkah karena mendengar kabar adanya seorang nabi yang dimusuhi kaumnya. Lalu di dekat Ka’bah ia bertemu Ali bi Abi Thalib ra dan ia bertanya bagaimana bisa bertemu Nabi saw. Dengan bahasa isyarat, Ali menunjukkan jalan bagi Abu Dzar. Karena Ali kuatir adanya gangguan dari pemuka Quraisy.

Akhirnya Abu Dzar bertemu Nabi saw. “Jelaskan padaku apa yang Anda ajarkan,” kata Abu Dzar. Lalu Nabi saw. menjelaskan Islam dan seketika itu pula ia bersyahadat.

Pada momen itu Nabi saw. berpesan, “Rahasiakanlah hal ini dan pulanglah ke negerimu. Jika kabar kemenangan kami telah sampai kepadamu, nanti temui aku.”

Abu Dzar berkata, “Demi zat yang mengutus Anda dengan kebenaran, aku benar-benar menampakkan keislamanku selagi aku masih di sini.” Tampaknya Abu Dzar sungguh-sungguh. Semangat yang begitu besar membuatnya bangga hingga kurang memperhatikan anjuran Nabi saw.

Ia pun mengucapkan syahadat di hadapan pemuka Quraisy yang berada di sekitar Ka’bah. Tak pelak, orang musyrikin mengeroyoknya hingga babak belur. Al Abbas, paman Nabi saw. menolongnya seraya berseru, “Celakalah kalian! Apakah kalian hendak menghajar orang Ghifar padahal Ghifar tempat kalian berdagang dan kalian selalu melaluinya?” Akhirnya Abu Dzar pulang ke negerinya walau hanya sebentar saja bertemu Nabi saw.

Setelah kabar kemenangan kaum muslimin Madinah terdengar, maka Abu Dzar berencana menemui Nabi saw. Maka penduduk Madinah terkejut karena suara gemuruh derap langkah manusia, kuda dan unta. Warga Madinah sempat kuatir itu suara musuh yang akan menyerang.
Ternyata itu suara rombongan besar Bani Ghifar dan Bani Aslam yang hendak menemui Nabi saw. Kalau bukan karena suara pekik takbir kaum muslimin Madinah mengira itu suara pasukan musuh. Dengan izin Allah, Abu Dzar berhasil mengajak kaumnya dan kaum terdekat di kampungnya, Bani Aslam untuk memeluk Islam.

Padahal dengan bertemu Nabi yang hanya sebentar namun semangat dakwah Abu Dzar menyebarkan hidayah Allah bisa sampai ke masyarakat sekitarnya. Karena itu Nabi menyambut Bani Ghifar dan Aslam dengan doa Ghifar! Aslam!” Artinya Allah telah mengampuni dosa mereka (ghifar) dan Allah menyelamatkan kehidupan mereka (aslam). Karena memang begitulah arti nama kedua nama kabilah itu.

2. Memelihara kehidupan manusia seluruhnya
Amar makruf nahi mungkar dapat mencegah terjadinya kehancuran manusia dan alam semesta.
Jauh-jauh hari Nabi saw. mengingatkan, “Perumpamaan orang yang menjaga larangan-larangan Allah dan orang yang terjatuh di dalamnya adalah seperti suatu kaum yang sedang mengundi untuk mendapatkan tempat mereka masing-masing di dalam kapal. Sebagian mendapat tempat di bagian atas kapal dan sebagian lainnya mendapat di bagian bawah. Orang-orang yang berada di bawah jika ingin mendapatkan air minum mereka melewati orang-orang yang ada di atas. Mereka (yang ada di bawah) berkata, “Andaikata kita melubangi perahu ini untuk mendapatkan air minum, maka kita tidak akan mengganggu mereka yang ada di atas.” Jika orang-orang yang ada di atas membiarkan perbuatan dan keinginan orang-orang yang ada di bawah (yaitu melubangi kapal), maka mereka semua akan tenggelam” (HR. Bukhari dan Tirmidzi, dari Nu’man bin Basyir ra).


Jika kita melihat orang mudah saja merusak hutan misalnya, warga kota hanya berkata itu bukan urusan kami karena kami jauh di kota sudah barang tentu yang merasakan banjir bukan hanya warga lereng gunung. Banjir dan longsor bisa menghancurkan lingkungan yang di hutan maupun yang kota. Karena kita tinggal di ‘perahu’ yang sama.

Demikian pula kerusakan lingkugan udara dan juga air. Karena kita butuh udara dan air yang sama. Alam semesta ini diciptakan Allah swt. saling terkait yang kemudian kita kenal dengan ekosistem. Sekadar mengingatkan, ekosistem bermakna suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik tak terpisahkan antara makhluk hidup dengan lingkungannya.

Selain itu, ancaman kerusakan tidak hanya datang dari manusia. Sejak diciptakannya manusia pertama, Iblis telah berikrar untuk merusak hidup anak cucu Adam hingga hari kiamat kelak. Iblis dan bala tentaranya yang berupa jin dan manusia berusaha sekuat tenaga untuk menyesatkan manusia seluruhnya.

Berkata iblis, “Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan.” Allah berfirman, “(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan.” Iblis berkata, “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka” (QS. Al Hijr 36-40).(bersambung).(dari berbagai sumber)